“Merdeka Lahir Batin: Santri, Kemerdekaan, dan Tanggung Jawab Zaman”

Hubbul wathan minal iman – cinta tanah air adalah bagian dari iman. Dan cinta itu tidak hanya diucapkan, tapi diwujudkan dengan belajar, berkarya, dan menjaga kemerdekaan.”

Agustus selalu punya cerita sendiri di pondok. Begitu memasuki bulan kemerdekaan, suasana mulai terasa berbeda: santri lebih sibuk, kegiatan lebih padat, dan wajah-wajah penuh antusiasme tampak di setiap sudut. Di Yayasan Kotagede Darussalam, peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia tahun ini benar-benar menjadi momen penuh warna, dimulai dari malam tirakatan yang syahdu, upacara kemerdekaan yang khidmat, sampai lomba menulis yang bikin deg-degan sekaligus heboh.

K.H. Munir Syafa’at memimpin acara tirakatan di depan segenap santriwan dan santriwati

Malam 16 Agustus, pendopo Al-Khadijah ramai dipenuhi santri Nurul Ummah Putri dan Kotagede Hidayatul Mubtadi-ien. Tirakatan digelar sederhana tapi penuh makna. Setelah sholawat dan doa tahlil, suasana menjadi hening saat K.H. Munir Syafa‘at menyampaikan mau‘idzoh tentang arti kemerdekaan. Beliau mengingatkan bahwa merdeka sejati bukan sekadar bebas dari penjajahan, tetapi juga mampu berdiri di atas kaki sendiri: mandiri dalam pendidikan, ekonomi, dan politik. Santri pun diajak untuk belajar sungguh-sungguh, agar kelak bisa membawa bangsa ini pada kemandirian yang hakiki. Usai acara, beberapa santri saling bercanda. “Ternyata jadi santri itu juga perjuangan, merdeka dari rasa malas dan kantuk!” celetuk seorang santri sambil disambut tawa teman-temannya.Keesokan paginya, 17 Agustus, lapangan SMA Islam Darussalam dipenuhi lautan putih-hitam seragam santri. Upacara kemerdekaan berlangsung khidmat, dengan pengibaran bendera, pembacaan teks proklamasi, dan lagu kebangsaan yang dikumandangkan dengan lantang. Namun, momen yang paling membekas justru saat Agus Minanullah, inspektur upacara, menyampaikan amanat. Ia menekankan bahwa generasi sekarang harus bisa memaknai kemerdekaan dalam konteks baru: merdeka dari ‘penjajahan teknologi’. Pesan itu terasa menohok, apalagi ketika beliau menggambarkan bagaimana algoritma bisa mengatur emosi dan perhatian kita. Banyak santri yang mengangguk-angguk, sebagian lagi tersenyum kecut sambil berbisik, “Waduh, ketahuan sering scroll medsos sampai lupa ngaji.” Upacara itu akhirnya bukan hanya jadi rutinitas tahunan, tapi juga ruang refleksi tentang bagaimana santri bisa tetap merdeka di tengah gempuran dunia digital.

Ibu nyai Hj. Barokah Nawawi bersama Agus Minanullah dan istri berfoto bersama dengan segenap santriwati usai upacara 17 Agustus 2025

Semarak Agustusan semakin terasa dengan lomba menulis yang digelar oleh tim media Yayasan Kotagede Darussalam. Ajang ini khusus untuk santri dan alumni Nurul Ummah Putri dan Kotagede Hidayatul Mubtadi-ien, dan hasilnya sungguh mengejutkan. Karya-karya yang masuk beragam sekali: ada yang reflektif soal pendidikan, ada yang kritis mengupas makna barokah, ada pula yang puitis mengisahkan perjuangan perempuan. Dari sekian banyak peserta, tiga tulisan berhasil menjuarai perlombaan. Juara pertama diraih Sri Bagus Wahyu Prawoto dengan karyanya berjudul Santri dan Kemerdekaan Pendidik, yang memperoleh nilai rata-rata 83,9. Juara kedua jatuh pada Dita Destiana Wulandari dengan tulisan Menggugat Tafsir Sempit Tentang Barokah, dengan nilai 83,6. Sementara juara ketiga diraih Faidlul Barokah dengan karya Srikandhi Menjemput Rembulan, yang mendapat nilai 83,4.

Sesi pembacaan pengumuman penulis terbaik 1, 2, dan 3 lomba YKD oleh Panitia usai upacara 17 Agustus 2025

Pengumuman juara berlangsung meriah. Seluruh santri bersorak-sorai, ada yang bersorak kegirangan, ada yang pura-pura cuek padahal deg-degan menunggu namanya dipanggil. “Aku kira cuma iseng ikut, ternyata bisa dapat juara. Rasanya kayak bener-bener merdeka dari rasa minder,” ucap salah satu pemenang dengan wajah berbinar. Di Pondok Nurul Ummah Putri sendiri, suasana tak kalah meriah dengan adanya lomba-lomba khas santri seperti drama komplek, slulupan, bacing (balon racing), sikrup (skill narik kerupuk), hingga tower tetez. Setiap kamar kompak mendukung perwakilannya, menjadikan lapangan pondok penuh sorak-sorai dan tawa kebersamaan. Drama dan keseruan lomba makin terasa ketika beberapa kelompok menampilkan pentas kecil bertema perjuangan. Ada yang memakai atribut pejuang lengkap dengan bendera merah putih di kepala, ada pula yang menirukan adegan heroik ala film perjuangan. Penonton pun tertawa sekaligus bertepuk tangan riuh, menikmati setiap aksi kocak namun penuh semangat itu.

Suasana lomba tujuhbelasan di Pondok Pesantren Nurul Ummah Putri

Sementara itu, di pondok putra, perlombaan baru dimulai pada sore hari. Udara sore yang teduh membuat suasana lebih santai. Lomba pertama adalah lomba makan kerupuk. Kerupuk digantung dengan tali panjang, lalu ujung tali diikat pada kaki peserta. Artinya, semakin tinggi kaki diangkat, semakin turun kerupuk dan semakin mudah untuk digigit. Dari kejauhan, terlihat para peserta berusaha keras menyeimbangkan tubuhnya agar tidak jatuh karena hanya bertumpu pada satu kaki. Setelah itu, keseruan dilanjutkan dengan lomba estafet sedotan. Santri berbaris, lalu setiap orang harus memindahkan sedotan ke temannya dengan cara menjepitnya di antara mulut dan hidung. Ekspresi wajah yang dibuat-buat manyun agar sedotan tidak jatuh justru membuat penonton tertawa melihat keasyikan lomba ini.

Suasana keseruan lomba tujuhbelasan santri putra di Pondok Pesantren Kotagede Hidayatul Mubtadi-ien

Lomba berikutnya adalah estafet karet di dalam tepung. Di atas meja, tumpukan tepung putih disiapkan dan di dalamnya tersembunyi karet gelang kecil. Peserta harus mencarinya dengan sedotan. Begitu lomba dimulai, wajah para peserta langsung belepotan tepung, ada yang hanya bagian mulut, ada juga yang sampai putih seluruh pipinya. Sorak-sorai makin pecah ketika ada peserta yang lama sekali tidak berhasil mengangkat karet. 

Malam harinya, giliran lomba-lomba ketangkasan digelar. Lima keloMalam harinya, giliran lomba-lomba ketangkasan digelar. Lima kelompok dari masing-masing kamar bersaing di tebak gambar, tebak tokoh, juga tebak ciri. Dalam tebak gambar, peserta yang mendapat giliran menggambar tampak bingung menuangkan ide di papan. Gambar yang seadanya membuat kelompoknya kesulitan menebak, dan penonton pun terpingkal melihat hasil coretan yang jauh dari maksud kata.

Suasana makin seru pada lomba tebak tokoh. Peserta sama sekali tidak menyangka bahwa panitia sengaja mengedit wajah tokoh publik dengan wajah santri. Ketika foto Erick Thohir muncul, Kang Alfin dan Kang Faiq dengan penuh percaya diri langsung menjawab, “Erick Thohir iki Erick Thohir,” sambil menunjukkan gestur yakin seolah jawabannya pasti benar. Namun ternyata, meski badannya memang Erick Thohir, wajahnya sudah diganti dengan wajah santri. Kejutan itulah yang membuat tawa para santri pecah seketika.

Potret kebersamaan santri putra yang sedang menonton lomba tebak gambar

Lomba terakhir, tebak ciri, menutup rangkaian dengan penuh gelak tawa. Beberapa santri yang dikenal punya kebiasaan unik diperagakan ulang oleh MC: dari cara berjalan, gaya berbicara, sampai gestur khas. Penonton berteriak memberi tebakan. Dari tiga soal yang diberikan, dua berhasil dijawab benar, sementara satu lagi justru meleset jauh.

Usai lomba, para panitia dan pengurus saling berucap syukur. Mereka tidak menyangka euforia santri begitu besar, bahkan melebihi perkiraan semula. Keriuhan dan antusiasme itu menjadi bukti bahwa kebersamaan bisa tumbuh lewat acara sederhana.

Akhirnya, Agustusan di pondok bukan hanya tentang bendera dan upacara. Ia jadi ruang untuk merenung sekaligus bersenang-senang. Ada sisi serius yang mengajarkan arti kemerdekaan sejati, ada pula sisi riang yang mengikat persaudaraan antar santri. Semua berpadu menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Bagi para santri, merdeka itu sederhana: bisa belajar dengan semangat, berkarya dengan percaya diri, dan tetap tertawa bersama teman-teman dalam kebersamaan yang hangat.

Penulis : Siti Khoirunnisa, HN Sidik | Editor : Nayla Sya