
Sumber: id.pinterest.com/vecteezy
Isra’ Mi’raj merupakan salah satu pengalaman luar biasa Nabi Muhammad SAW yang sarat akan makna. Dari peristiwa tersebut, sholat lima waktu disyariatkan dengan cara yang sangat istimewa. Karena peristiwa tersebut pula Rasulullah dapat meredam kesedihannya setelah dua sosok yang sangat beliau cintai meninggal dunia. Kronologi perjalanan lintas negara dan lintas alam ini telah banyak diceritakan dalam hadits, salah satunya hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik yang tercantum dalam Sunan Nasa’i. Hadits panjang ini menceritakan kronologi Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad yang menempuh tujuh langit serta bertemunya beliau dengan nabi-nabi terdahulu.
Secara tidak langsung, hadits tersebut juga memberikan informasi bahwa Rasulullah tidak bertemu dengan semua nabi terdahulu. Rasulullah hanya dipertemukan dengan beberapa nabi saja, itu pun tidak secara runtut berdasarkan kronologi sejarah nabi-nabi terdahulu. Alih-alih Rasulullah bertemu dengan Nabi Adam di langit pertama kemudian Nabi Idris di langit kedua, Rasulullah justru dipertemukan dengan Nabi Isa dan Nabi Yahya di langit kedua, barulah bertemu dengan Nabi Idris di langit keempat. Mengapa dan apa alasan di balik itu semua, jelas hanya Allah yang mengetahui.
Namun menariknya, ada satu ulama Indonesia yang berusaha mencari korelasi antara pertemuan Rasulullah dengan nabi-nabi terdahulu dan perjalanan dakwah Rasulullah. Beliau adalah Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani dalam kitabnya Madarijus Su’ud ila Iktisa’il Burud. Kitab yang merupakan Syarah Maulid Barzanji ini mengungkapkan keserupaan pengalaman yang dialami oleh nabi-nabi terdahulu dengan pengalaman Nabi Muhammad SAW, dengan mencocokkan tingkatan langit dengan tahun hijriyah. Berikut penjelasan ringkasnya.
- Di langit pertama, Rasulullah bertemu dengan Nabi Adam. Nabi Adam pada awalnya tinggal di surga, kemudian setan membuatnya terusir dari surga dan diturunkan ke bumi. Pertemuan dengan Nabi Adam di langit pertama ini menunjukkan keserupaan dengan apa yang Rasulullah alami di tahun pertama hijriyah. Pada tahun tersebut, Rasulullah berhijrah ke Madinah sehingga merasakan beratnya meninggalkan tempat tinggal dan harta benda sebagaimana Nabi Adam yang meninggalkan surga. Keduanya sama-sama merasakan pahitnya meninggalkan tempat tinggal, meski pada akhirnya keduanya akan kembali ke kampung halaman mereka.
- Rasulullah bertemu dengan Nabi Isa dan Nabi Yahya di langit kedua. Nabi Isa dan Nabi Yahya masih memiliki hubungan saudara dan diutus kepada kaum yang sama. Kaum tersebut adalah kaum Yahudi yang sangat ingkar kepada Nabi Isa sampai pada waktu itu mereka berniat membunuhnya. Namun, kemudian Allah menyelamatkan Nabi Isa dan mengangkatnya ke langit. Begitu pula pengalaman yang dialami Rasulullah di tahun kedua hijrah. Orang-orang Yahudi memusuhi beliau bahkan bertekad membunuh beliau dengan menjatuhkan batu besar ke tubuh beliau. Akan tetapi, sebagaimana Nabi Isa yang diselamatkan Allah dari kejahatan kaum Yahudi, Rasulullah pun Allah selamatkan dari mereka.
- Di langit ketiga, Rasulullah bertemu dengan Nabi Yusuf. Seorang nabi yang sangat dikasihi ayahnya hingga saudara-saudaranya merasa iri dan membuangnya ke sumur, kemudian memberitakan kepada ayahnya bahwa Yusuf telah meninggal. Padahal faktanya, Nabi Yusuf masih hidup, dan bahkan akan menguasai mereka kelak. Pertemuan dengan Nabi Yusuf di langit ketiga ini serupa dengan pengalaman Rasulullah di tahun ketiga hijriyah, yaitu tersebarnya kabar bahwa Rasulullah terbunuh ketika Perang Uhud hingga membuat kaum muslimin sedih. Namun ketika kaum muslimin mengetahui Rasulullah ternyata masih hidup, mereka bahagia kembali seperti ayah Nabi Yusuf yang sangat bahagia ketika mengetahui putra kesayangannya masih hidup.
- Di langit keempat, Rasulullah bertemu dengan Nabi Idris. Keserupaan peristiwa yang dialami Rasulullah di tahun keempat hijriyah dengan Nabi Idris yaitu pengiriman surat kepada raja-raja sekitar daerah kekuasaan dengan maksud menyeru mereka untuk menyembah Allah. Tahun keempat hijriah umat Islam semakin banyak dan kuat, hingga Rasulullah menggunakan strategi baru dalam dakwahnya, yaitu mengirim surat kepada raja-raja di seluruh penjuru seperti yang dilakukan Nabi Idris pada masanya. Rasulullah pertama kalinya membubuhkan cap dalam surat-surat tersebut agar para raja merasa segan. Selain itu, baik Rasulullah maupun Nabi Idris merupakan seorang pelopor. Nabi Idris adalah orang yang pertama kali menulis menggunakan pena, sedangkan Rasulullah adalah orang pertama yang membubuhkan cap/stempel dalam surat.
- Rasulullah bertemu dengan Nabi Harun di langit kelima. Nabi Harun adalah saudara Nabi Musa yang ketika ditinggalkan Nabi Musa, ia diremehkan oleh kaumnya sehingga mereka tidak mau menerima ajakan nabi Harun. Padahal ketika ada Nabi Musa, mereka terlihat menghormati Nabi Harun. Hal serupa dialami oleh Rasulullah di tahun kelima, ketika Bani Quraizhah yang awalnya terlihat menghormati Rasulullah, ternyata memiliki niat buruk kepada beliau. Suatu hari mereka mempersilakan Rasulullah duduk di bawah dinding, dan berencana menjatuhkan batu besar ke tubuh beliau. Namun Allah mengirimkan Jibril untuk memberitahu Rasulullah sehingga beliau selamat. Tak lama setelah itu, Rasulullah mengerahkan pasukan untuk memerangi Bani Quraizhah. Nabi Muhammad dan Nabi Harun sama-sama menghadapi kaum yang bermuka dua, terlihat baik di luar namun membangkang di dalam.
- Di langit keenam, Rasulullah bertemu dengan Nabi Musa. Pertemuan ini memiliki korelasi dengan peristiwa Daumatul Jandal, perang di wilayah kekuasaan Romawi yang berujung pada kemenangan kaum muslimin. Rasulullah berhasil memasukkan kaum muslimin di sebagian daerah kekuasaan Romawi, sebagaimana Nabi Musa yang kala itu berhasil memasukkan Bani Israil ke tanah Quds setelah beliau mengalahkan orang-orang yang menempati tanah Quds sebelumnya.
- Di langit ketujuh, Rasulullah bertemu dengan Nabi Ibrahim yang sedang menyandarkan punggungnya di Baitul Ma’mur. Mushannif tidak secara jelas memaparkan keserupaan peristiwa yang dialami Rasulullah dan Nabi Ibrahim. Namun pertemuan dengan Nabi Ibrahim di langit ketujuh ini memiliki korelasi dengan peristiwa yang dialami Rasulullah di tahun ketujuh hijriyah. Pada tahun itu, Rasulullah memasuki Baitul haram (Mekah) untuk melaksanakan Umrah Wadha’ guna menegakkan syiar-syiar warisan Nabi Ibrahim yang telah mati pada masa jahiliyah.
Demikian pendapat Syekh Nawawi al-Bantani, kiranya cukup menjawab pertanyaan terkait pertemuan Rasulullah dengan nabi-nabi terdahulu. Terlepas dari itu, kebenaran tetaplah milik Allah, Sang Penguasa Tunggal yang mengetahui rahasia alam semesta. Wallahu a’lam.
Sumber: Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani, Madarij al-Su’ud ila Iktisa’i al-Burud, (Surabaya: Al-Hidayah), hal 39-42
Penulis: Isti Kamilatun Nisa | Editor: Adhwa Nala
