
Sumber: Dokumentasi Pribadi
YKD – Minggu (15/2), Pondok Pesantren Nurul Ummah Putri kedatangan workshop dari HS Silver, sebuah perusahaan pengrajin perak di Kotagede, Yogyakarta. Workshop ini sebagai tanda kolaborasi dan promosi bagi HS Silver dan pelatihan yang sangat bermanfaat serta menguji kreativitas bagi santri Nurul Ummah Putri. Workshop ini dipandu oleh 2 orang pengrajin dan 1 orang dokumentator, mereka adalah Kak Hilmi, Kak Faisal dan Kak Kayyis, serta perwakilan santri Nurul Ummah Putri berjumlah 5 orang.
Workshop dimulai dengan pembukaan singkat dan santai, serta pengenalan mengenai perak yang akan digunakan dalam workshop ini. Perak yang digunakan dalam workshop adalah perak dengan kandungan 92,5% yang jika diibaratkan dengan emas, maka emas ini mengandung 24 karat. Pemandu menyediakan 3 varian bingkai yang boleh dipilih salah satunya sebagai sarana workshop, yaitu cincin, anting dan juga liontin. Perak yang berbentuk kawat tipis akan digunakan dan dibentuk sesuai dengan kreasi para peserta workshop. Tentu saja para peserta tidak dibebaskan begitu saja, namun dipandu, diberi gambaran dan arahan mengenai beberapa pola kreasi perak yang biasa digunakan para pengrajin.

Bingkai yang sudah dimasuki pola dengan baik akan diproses dengan teknik filigree atau penambahan bubuk campuran perak dan tembaga yang nantinya akan dilelehkan agar pola perak menempel dengan sempurna pada bingkai. Pada proses filigree ini, Kak Faisal menjelaskan bahwa, “Perak memiliki keunikan tersendiri. Semua mineral yang ada di bumi tidak ada yang sama dan unik. Perak memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan cepat pada suhu yang berbeda-beda.”
Dalam proses filigree dan selanjutnya diambil alih oleh Kak Hilmi, pengrajin yang lumayan sudah lama bergabung dalam kerajinan perak. Setelah proses perekatan benang perak pada bingkai, dilanjutkan dengan penyelupan pada cairan-cairan tertentu seperti asam sulfat, air borak dan juga air tawas. Ketiga cairan tersebut berfungsi untuk menghilangkan noda hitam dan memutihkan kembali perak setelah proses pembakaran. Proses ini biasa dilakukan berulang minimal 3x bahkan 6x untuk hasil yang maksimal. Pada proses ini juga dilakukan penempelan identitas dari perhiasan perak ini, yakni “HS 92,5”.

Acara workshop ditutup dengan ucapan terima kasih dan selamat dari Kak Faisal bahwa para peserta sudah menyelesaikan tantangan pembuatan kerajinan perak tersebut. Pihak HS Silver juga meminta maaf apabila dalam pendampingan memiliki banyak kesalahan dan kekurangan. Penutupan itu juga disambut terima kasih oleh para peserta dan dilanjutkan dengan sesi dokumentasi oleh Kak Kayyis. Dalam sesi dokumentasi, para peserta diharapkan untuk menunjukkan hasil karyanya dengan bersama-sama.
Pada workshop kali ini terbilang sangat menyenangkan bagi para peserta, karena workshop ini merupakan hal baru bagi para peserta. Selain itu, workshop ini juga dapat memberikan gambaran mengenai hal-hal yang selama ini tersimpan dalam tanah Kotagede. Setiap tanah dan airnya, Kotagede mengandung perak yang selama ini dimanfaatkan oleh para warganya untuk berkreasi dan menafkahi keluarga. Sehingga selain mendapatkan ilmu, tentu saja para peserta dapat mendapatkan pengalaman serta berkesempatan untuk meningkatkan skill yang mungkin akan berguna di masa depan.
Reporter : Nuril | Editor : Deri
