Dari Antisosial Jadi Percaya Diri : Kisah Mengharukan di Balik Akhirussanah TK Nurul Ummah

Foto diambil oleh penulis setelah acara Akhirussanah selesai

Nupipress – TK Nurul Ummah menggelar acara Akhirussanah Tahun Pelajaran 2024/2025 pada Kamis (19/06) di Gedung Madu Nusantara Jogja. Acara yang berlangsung mulai pukul 07.30 hingga 11.00 WIB ini dihadiri oleh para wali santri, pendidik, serta tokoh yayasan, dan diisi dengan berbagai penampilan menarik dari seluruh santri.

Mengusung semangat kebersamaan dan pendidikan karakter, acara ini tidak hanya menjadi ajang pelepasan santri kecil yang lulus, tetapi juga momentum penting untuk melatih mental anak sejak dini agar berani tampil di depan umum, serta menjadi kebanggaan tersendiri bagi orang tua yang menyaksikan secara langsung perkembangan anaknya.

“Santri itu istilah yang kami populerkan sejak awal. Karena kami ingin anak-anak di sini tumbuh dengan identitas sebagai pelajar yang berakhlak dan cinta ilmu,” ujar Kepala TK Nurul Ummah, Umi Badriyah, saat diwawancarai.

Ia menjelaskan bahwa persiapan acara telah dilakukan selama dua bulan dengan melibatkan seluruh guru, karyawan, komite, dan perwakilan wali santri. Dalam rapat-rapat kepanitiaan, diputuskan berbagai hal teknis seperti lokasi, konsumsi, hingga suvenir bagi santri yang lulus. Tahun ini, suvenir berupa tumbler bertuliskan TK Nurul Ummah.

Salah satu hal istimewa dari Akhirussanah TK Nurul Ummah adalah seluruh santri baik dari TK-A maupun TK-B ikut tampil di atas panggung.

“Prinsip kami, semua anak harus tampil. Masing-masing punya karakter dan potensi. Ada yang baca Al-Qur’an, sari tilawah, menari, hingga drama musikal. Tahun ini kami pentaskan drama bertema ‘Jangan Lupa Berdoa dan Sholat Shubuh’,” imbuh Bu Umi.

Acara dibuka dengan sesi foto di photo booth bagi santri yang lulus, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, lagu kebangsaan, sambutan, penampilan seni, hingga doa dan penutupan.

Dalam sambutannya, Ketua Yayasan Kotagede Darussalam, Bapak Minanullah, menyampaikan pentingnya memilih jenjang pendidikan lanjutan yang menekankan akhlak mulia.

“Dewasa ini, peran kita dapat tergantikan teknologi, seperti dengan adanya robot dan lain sebagainya. Satu hal yang tidak bisa digantikan oleh teknologi adalah memberikan teladan, yang hanya bisa dipahami kalau mencontohnya dari orang di sekeliling kita. Maka, pilihlah sekolah yang gurunya bukan hanya mentransfer ilmu, tapi juga bisa memberikan teladan,” pesannya.

Sementara itu, Bu Umi menekankan pentingnya peran orang tua dalam melanjutkan pembiasaan baik yang sudah diajarkan di TK, seperti antre, muroja’ah, sholat duha, hingga konsep antikorupsi.

“Kalau diberi snack satu, ya ambil satu. Ini bagian dari pendidikan karakter sejak dini,” ujarnya.

Untuk para santri, Bu Umi berpesan agar mereka terus belajar dan menjaga semangat mengaji sebagai bekal kehidupan.

Salah satu wali santri, Ibu Ina, mengaku bersyukur atas perkembangan anaknya selama di TK Nurul Ummah.

“Yang paling melejit itu anak saya yang dulu antisosial. Tiga bulan terakhir dia mulai berani main sama temannya. Rasanya senang banget, sekarang dia sudah mulai percaya diri dan bisa serawung (bergaul). Alhamdulillah, berkembang dengan sendirinya,” ungkapnya.

Reporter : Deri | Editor : Nayla Sya