
Sumber: Generated AI
Angin dari lereng Gunung Lawu masih menempel di jubah Rororesmi ketika rombongan terhenti di sebuah hutan rimba yang belum bernama. Kabut tipis menggantung di antara pepohonan yang menjulang, suara jangkrik bersahutan seolah menyambut kedatangan mereka dengan curiga. Rombongan mereka sudah berbulan-bulan berjalan untuk menemukan tempat istirahat. Sejak malam ketika Trowulan diliputi tangis dan asap atau yang biasa dikenal sirna ilang kertaning bumi. Rororesmi yang merupakan salah satu selir Prabu Brawijaya V tak sempat lagi menoleh terakhir kalinya untuk melihat istana yang megah. Ia hanya berbekal keberanian dengan menggenggam tangan kedua putranya, serta sisa para prajurit yang masih setia meski dunia yang mereka kenal telah runtuh.
Onggoloco dan Gading Mas adalah dua putra Rororesmi yang juga dikenal sebagai senapati yang disegani karena kesaktiannya. Kini mereka berdua hanya bisa pasrah untuk segera menemukan tempat istirahat. Dengan sisa tenaga yang ada mereka terus berjalan ke barat sesuai dengan petunjuk gaib yang mereka terima. Dengan kepasrahan sebab sudah berjalan berbulan-bulan, harapan mereka hanya satu, yakni segera menemukan tempat peristirahatan.
“Bu, tempat itu berada di arah barat dengan perbukitan kecil,” ucap Onggoloco.
“Ya, mungkin sebentar lagi kita sampai di tempat itu,” jawab ibunya dengan tatapan optimis dan penuh keyakinan. Sebuah bisikan yang menuntun mereka menuju perbukitan kecil yang konon subur dan aman dari kejaran. Kepasrahan telah menjadi napas mereka. Setiap langkah adalah doa, setiap malam adalah pertaruhan antara bertahan atau menyerah.
Ia tidak mau anaknya mengetahui kekhawatiran yang sedang ia rasakan. Namun, Rororesmi percaya ia pasti bisa melewati rintangan ini. Ia tak ingin anak-anaknya tahu betapa lelah dan cemas ia sesungguhnya. Sebagai seorang ibu, ia memilih menyimpan sendiri ketakutan itu, membungkusnya rapat-rapat di balik senyum tenang, agar semangat anak-anaknya tak ikut runtuh bersama kerajaan yang telah mereka tinggalkan. Namun, jauh di lubuk hatinya, Rororesmi percaya–entah dari mana keyakinan itu berasal–bahwa mereka pasti bisa melewati rintangan ini, seberat apa pun jalan yang harus ditempuh.
Perjalanan mereka terhenti tiba-tiba ketika Gading Mas menunjuk sebuah perbukitan yang mulai terlihat dengan rimba yang masih sangat rimbun dan tertutup.
“Lihat! Itu mungkin bukit yang kita maksud.” Onggoloco segera melangkah mendekat, menyusuri jalan setapak yang samar di antara semak belukar. Tangannya menyentuh batang pohon besar di kaki bukit, matanya menatap lekat kontur perbukitan yang menghijau itu.
“Ya, ini sama persis dengan apa yang ada di dalam petunjuk malam itu,” sahut Onggoloco dengan penuh percaya diri.
Raut bahagia terlihat dari para prajurit yang akhirnya bisa bernapas lega. Setelah perjuangan berjalan lama, kini mereka telah sampai perbukitan. Setelah berbulan-bulan berjalan tanpa arah pasti, kini kaki mereka benar-benar berpijak di tanah yang dijanjikan mimpi. Beberapa prajurit bahkan tak kuasa menahan haru, ada yang berlutut mencium tanah, ada pula yang hanya diam sambil menyeka air mata yang tiba-tiba mengalir.
Prajurit ingin segera membuat tempat peristirahatan untuk Rororesmi dan kedua putranya. Namun, belum sempat menyentuh satu pohon pun tiba-tiba Gading Mas melarangnya.
“Jangan! Jangan dulu!“ Para prajurit terkesiap, bingung dengan seruan mendadak itu. Dan seolah alam menjawab sendiri kegelisahan Gading Mas, suasana yang tadinya damai berubah mencekam dalam sekejap. Daun berguguran dan angin bertiup semakin kencang.
“Ha-ha-ha…. Kalian siapa sampai berani sejauh ini?” Sebuah suara berat menggema, keluar dari balik pohon besar. Dari kegelapan muncul sosok macan putih raksasa, bulunya berkilau keperakan diterpa cahaya senja yang mulai redup, tetapi suara yang keluar dari mulutnya adalah suara manusia dalam, berwibawa, dan sarat amarah yang telah lama dipendam.
“Biasanya tidak ada yang berani sejauh ini. Namun, karena kalian sudah masuk di wilayahku, kalian harus terima akibatnya!” seru Macan Putih. Seketika langit menjadi gelap dengan angin bertiup semakin kencang.
“Biar kami berdua yang menghadapinya, Ibu,” ucap Onggoloco. Kini Onggoloco dan Gading Mas harus menghadapi sosok manusia jelmaan, yang biasanya gagah di medan perang kini harus menghadapi musuh yang sudah ratusan tahun menunggu perbukitan tersebut.
Rororesmi menatap kedua putranya dengan hati yang berkecamuk. Ia ingin melarang, ingin menahan mereka agar tak maju menghadapi kekuatan yang jelas bukan dari dunia mereka. Namun ia tahu, di titik ini kepercayaan adalah satu-satunya yang bisa ia berikan. Ia hanya mengangguk pelan, menahan air mata yang nyaris tumpah, sambil dalam hati merapal doa untuk keselamatan anak-anaknya.
Peperangan pun pecah, Onggoloco dan Gading Mas mengeluarkan seluruh kesaktiannya untuk menjatuhkan sang lawan. Mereka berdua memang sudah terbiasa melawan musuh, tetapi yang dihadapi kali ini adalah jelmaan manusia yang berwujud macan putih. Cakar-cakar tajam Macan Putih menyambar udara, meninggalkan bekas luka pada batang-batang pohon di sekitarnya. Tanah bergetar setiap kali kekuatan gaib beradu, percikan cahaya kebiruan memantul di antara dedaunan yang berguguran.
Setelah sekian lama peperangan terjadi, suara lembut dan pasrah keluar dari mulut Macan Putih. “Sudah…. Aku menyerah…. Aku mengaku kalah…,” ucapnya. “Aku tidak bisa menandingi kesaktian kalian, aku Gadung Melati yang menunggu bukit ini dan seluruh pengikutku,” lanjutnya.
“Tolong jangan usir aku dan pengikutku dari sini, dan aku berjanji tidak akan mengganggu siapa pun yang akan membuka hutan ini asalkan kalian mengizinkan aku untuk tetap tinggal.” Itulah permintaan dari Gadung Melati. Sebuah kesetiaan untuk menunggu tempat yang telah ia jaga selama ini.
“Baik, kami akan mengizinkan kalian tetap tinggal di sini. Tanpa mengurangi rasa hormat kami kepada kalian yang telah menjaga bukit ini, silakan kalian menempati ujung atas dekat sumber mata air, dan kalian harus ingat dengan janji kalian untuk tidak akan mengganggu atau melarang manusia untuk membuka hutan ini,” pinta Gading Mas.
Semenjak peperangan itu, Gadung Melati tidak pernah lagi menunjukkan wujudnya. Ia benar-benar patuh dan menepati janjinya. Ia lebih memilih menyatu dengan alam dan menjadi penunggu di sumber mata air, mengalirkan berkah kepada siapa pun yang kelak menetap di tanah itu. Kemudian Onggoloco memulai babad alas. Mereka menebang pohon-pohon besar dengan hati-hati. Perlahan hutan berubah menjadi ladang dan pemukiman kecil. Kemudian mereka menanam pohon untuk menandai dimulainya kehidupan baru.
Seiring berangsur pulihnya denyut kehidupan, gelombang pendatang mulai berdatangan dan menetap di kawasan tersebut untuk membuka lembaran baru. Untuk memperkuat keamanan, dengan banyak pertimbangan Ki Onggocolo dan Gading Mas meminta izin dan restu kepada ibunya untuk membuka Perguruan Kanuragan. Mereka memilih sebuah dataran lapang yang asri dan tenang, yang kemudian dikenal masyarakat luas sebagai Lembah Ngenuman, sebagai pusat kegiatan belajar. Di tempat itulah Ki Onggoloco dan Gading Mas mendidik para muridnya di bidang olah kanuragan dan kebatinan. Tidak hanya mengajarkan ilmu bela diri dan kanuragan untuk ketangguhan fisik, mereka juga menempa kematangan jiwa para murid melalui olah kebatinan yang mendalam. Dari lembah inilah lahir generasi penjaga keamanan yang tangguh, menjunjung tinggi nilai kebijaksanaan, serta membawa kedamaian bagi seluruh warga sekitar.
Malam sebelum keduanya berpisah, Ki Onggoloco memanggil Gading Mas, di tangannya tergenggam sebuah keris pusaka tua, benda yang selama ini disimpan rapat, tak pernah diperlihatkan kepada siapa pun.
“Gading Mas,” ucap Ki Onggoloco pelan, suaranya bergetar menahan sesuatu yang telah lama dipendam. “Sudah waktunya kau tahu kebenaran,” lanjutnya.
“Jadi… perpisahan kita bukan semata soal tapa brata mencari kesempurnaan?” tanya Gading Mas, terkejut bercampur haru. Ki Onggoloco menggeleng pelan. “Tapa brata itu nyata, adikku. Tapi ada alasan yang lebih dalam mengapa kita harus moksa di tempat berbeda, yakni agar kekuatan yang telah kita tanamkan pada padepokan ini tetap terjaga keseimbangannya.”
Gading Mas terdiam lama menatap keris pusaka alam itu, yang telah mengubah makna kepergian mereka bukan sekadar mencari kesempurnaan pribadi, melainkan juga pengorbanan terakhir.
Angin senja berembus pelan di Lembah Ngenuman, membawa wangi dupa dari padepokan yang kian sepi. Ki Onggoloco duduk bersila di bawah pohon beringin tua, matanya terpejam, menyatukan rasa dengan alam yang telah membesarkannya. Ia tak lagi mengajarkan jurus-jurus olah kanuragan, tak lagi menuntun murid-murid mengasah kebatinan. Kini yang ia lakukan hanyalah menyelami sunyi, menapaki jalan pulang menuju keheningan abadi.
Di kejauhan, di puncak Gunung Gambar yang diselimuti kabut tipis, Ki Gading Mas menjalani laku serupa. Setiap kali para pengikutnya datang membawa bekal, mereka mendapati sang guru semakin jarang bicara, semakin dalam menyelam dalam semedi, seolah jarak antara dirinya dan dunia fana kian menipis.
Tiga hari sekali, tujuh hari sekali, empat puluh hari sekali waktu kian merenggang, hingga akhirnya hanya setahun sekali kiriman itu dikirimkan. Dan pada suatu hari yang tak tercatat dalam lembar sejarah mana pun, Ki Gading Mas moksa, menyatu dengan semesta, meninggalkan jasad yang tiada, hanya menyisakan jejak keteladanan bagi anak cucu dan murid-muridnya.
Kabar itu sampai ke Lembah Ngenuman bersamaan dengan berakhirnya laku tapa brata Ki Onggoloco. Ia telah menyusul saudaranya yang telah lebih dulu moksa. Kini di Lembah Ngenuman dengan ritual yang ia lakukan juga, ia tidak meninggalkan apa pun, yang tersisa hanyalah ketangguhan dan keteladan yang hingga kini dipercaya oleh para warga sekitar.
Hingga kini, warga sekitar percaya bahwa kedua tokoh tersebut telah mendarmabaktikan hidupnya bagi kademangan hingga mencapai tataran sempurna, bersatu dengan alam yang selama ini mereka jaga. Sejak itulah, setiap tahun sehabis panen sawah, pada hari Senin Legi atau Kamis Legi, masyarakat sekitar berkumpul di Lembah Ngenuman. Mereka datang membawa hasil bumi, mengenang wejangan-wejangan luhur. Di penghujung acara, mereka duduk bersama dalam kembul bujono, makan bersama sebagai lambang kerukunan dan rasa syukur.
Hutan tempat berdirinya padepokan itu dikenal masyarakat dengan nama Wonosandi, dari kata “wono” yang berarti hutan, dan “sandi” yang bermakna rahasia atau kode tersembunyi. Seiring bergantinya generasi dan lisan yang terus diwariskan dari mulut ke mulut, pelafalan “Wonosandi” perlahan berubah menjadi lebih ringkas dan mudah diucapkan Wonosadi. Sebagian sesepuh menuturkan, pergeseran ini juga dimaknai sebagai simbol bahwa rahasia (sandi) yang dahulu tertutup kini telah “sadi” (dari kata sadar dan sedia), yakni sikap sadar diri dan sedia berkorban, sebagaimana yang telah dicontohkan Ki Onggoloco dan Gading Mas sepanjang hidup mereka.
Hingga kini, nama Wonosadi tetap melekat sebagai identitas hutan yang dahulu menjadi saksi perjalanan spiritual kedua tokoh tersebut.
Halo! Saya Sumadi Dhiak, seorang guru Bahasa Indonesia yang percaya bahwa setiap kata punya kekuatan untuk menginspirasi. Mengajar bahasa dan sastra adalah cara saya menuntun generasi muda
