Pesulap Hikmah dalam Halal Bi Halal TPQ Hidayatul Mubtadi-ien: Penegasan Makna Maaf dan Sedekah

YKD — Suasana penuh kehangatan dan keceriaan mewarnai serangkaian kegiatan halal bi halal yang diselenggarakan oleh TPQ Hidayatul Mubtadi-ien pada Kamis (10/4). Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari momen halal bi halal yang sebelumnya telah dilaksanakan pada Rabu (9/4), sebagai bentuk syukur atas berakhirnya bulan suci Ramadan.

Acara dihadiri oleh tiga unsur utama warga TPQ, yakni para guru, santri, dan wali santri. Kehadiran ketiga pihak ini mencerminkan semangat kebersamaan dalam membangun lingkungan pendidikan Al-Qur’an yang hangat dan penuh kasih sayang.

Rangkaian kegiatan dibuka dengan pembacaan doa bersama sebelum mengaji, dilanjutkan dengan tes hafalan ringan bagi para santri sebagai sarana evaluasi yang ringan namun bermakna. Seorang guru akan membacakan beberapa do’a dan surat tertentu, kemudian para santri akan mulai menebak-nebak tentang apa bacaan tersebut. Tes hafalan ini juga disertai interaksi yang lucu dan unik dengan penambahan score dalam setiap tebakan santri agar mereka semakin bersemangat.

Puncak acara diisi oleh Pak Lathif yang menyampaikan cerita hikmah kepada seluruh peserta melalui pertunjukan sulap yang sebelumnya diiringi dengan nyanyian-nyanyian anak. Kemudian diakhiri dengan pemberian hadiah sebagai bentuk apresiasi kepada para santri. Hadiah tersebut sebagai bentuk apresiasi santri yang rajin dalam hal ibadah.

Dalam cerita hikmahnya, Pak Lathif mengungkapkan bahwa halal bi halal memiliki kekuatan luar biasa dalam memurnikan jiwa. Setelah manusia melakukan banyak dosa sepanjang waktu, tradisi saling memaafkan ini ibarat proses kelahiran kembali. Persis seperti pesulap yang mengubah air keruh menjadi air bening nan jernih. Dosa-dosa kita seolah-olah gugur begitu saja karena adanya tradisi saling memaafkan ini.

Beliau mendemonstrasikan bahwa hati kita adalah air tersebut dan dosa-dosa kita adalah cairan kotor yang masuk kedalamnya. Cairan pemutih yang dimasukkan adalah usaha yang kita lakukan untuk memurnikan kembali hati kita. Begitu pula konsepsi halal bi halal yang ingin beliau coba sampaikan, sebuah gambaran yang menyentuh hati sekaligus mudah diingat oleh para santri.

Pak Lathif juga menekankan pentingnya sedekah dengan menggunakan analogi sulap yang lain. Beliau mengibaratkan bahwa bersedekah bagaikan pertunjukan sulap. Uang yang dikeluarkan untuk sedekah mungkin terlihat hilang atau berkurang, namun sesungguhnya dilipatgandakan oleh Allah dengan bentuk yang lebih baik.

Pak Lathif mencoba memasukkan uang ke dalam kantong hitam yang mana uang tersebut seperti hilang, namun ketika diambil menjadi uang lain dengan nominal yang lebih banyak. Terkadang uang yang dimasukkan tidak berupa uang lagi tapi berupa kain panjang berwarna-warni yang sangat memanjakan mata dan hati. Terkadang bentuk kebahagiaan bukan berupa uang tapi juga rasa aman, nyaman dan menyenangkan seperti yang dirasakan para santri saat melihat pertunjukan sulap tersebut.

Kegiatan ini berlangsung dengan penuh kekhidmatan dan kegembiraan. Konsep acara yang interaktif memadukan nilai spiritual seperti cerita hikmah melalui pertunjukan sulap, menegaskan makna maaf dan sedekah dalam kehidupan santri. Selain itu, evaluasi pendidikan melalui tes hafalan dalam acara ini menunjukkan adanya kebersamaan dalam satu momen yang bermakna. Rangkaian acara ini merupakan perbaduan yang menarik sekaligus sangat reflektif. Semangat halal bi halal ini diharapkan terus terbawa dalam keseharian santri, baik dalam menuntut ilmu maupun saat berbagi kepada sesama.

Penulis: Diah Nur Asih | Editor: Nuril

Tinggalkan Balasan