Tasmi’ Jus 30 dan Buka Bersama: Kehangatan Sore di Tengah Rintik Hujan Ramadhan

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Sore itu guru-guru PAUD Terpadu Salsabila Darussalam berjejer rapi, mengenakan abaya hitam berpadu dengan hijab biru, menyambut anak-anak dan orang tua yang mulai berdatangan. Tak berselang lama, rintik hujan mulai turun membersamai kegiatan tersebut.

Dua anak berbaju putih telah duduk di depan pendopo dan melantunkan hafalan mereka. Suara kecil khas anak-anak terdengar berusaha mantap melafalkan ayat demi ayat. Di sisi kanan dan kiri, dua guru mengapit dengan tenang, menyimak bacaan sambil sesekali memberi isyarat lembut ketika ada bagian yang perlu diperbaiki.

Sebagaimana dunia anak-anak, suara hentakan kaki, tawa, obrolan asyik, tangisan, bahkan jeritan kecil, tidak serta-merta meruntuhkan suasana khidmat. Saat sampai pada surat At-Takatsur, suara salah satu anak sempat terdengar semakin mengecil. Namun ketika memasuki tiga surat terakhir, suaranya kembali menguat—seolah menandakan, “akhirnya kita bisa.”

Seusai membaca, seorang anak ditanya,
“Gimana rasanya tadi?”
“Aaa… capekkk,” jawabnya singkat, jujur tanpa dibuat-buat.

Sumber: Dokumentasi pribadi

Menjelang waktu berbuka, sebagian anak sudah lebih dulu makan sebelum adzan Magrib berkumandang. Orang tua terlihat menyuapi dengan sabar. Ada yang memangku anaknya sambil berbincang, ada pula yang sesekali mengecek ponsel. Suasana terasa santai, akrab, dan tanpa sekat.

Sumber: Dokumentasi pribadi

Ibu Alfi membuka sesi berikutnya dengan suara lantang dan penuh semangat. Ia memancing orang tua untuk saling berkenalan.
“Kalau anak-anak bisa menyebutkan nama temannya di kelas, masa orang tua nggak?” ujarnya, mengundang tawa.

Sumber: Dokumentasi pribadi

Di tengah rintik hujan, Gus Inan hadir menyampaikan mau’idoh hasanah. Ia mengingatkan tentang keutamaan Ramadhan, menyebut bulan ini sebagai bulan yang “panas” karena dosa-dosa orang yang berpuasa ikut terbakar. Ia juga menyinggung bagaimana Perang Badar pada 17 Ramadhan berlangsung di tengah panasnya cuaca Ramadhan kala itu. Hikmah dalam cerita Perang Badar itu, Gus Inan mengajak hadirin untuk tidak hanya membaca buku, tetapi juga membaca keadaan dan situasi kehidupan.

Selama penyampaian berlangsung, bapak-bapak di bagian depan terlihat menyimak serius. Sebagian ibu-ibu berbincang pelan, sementara yang lain mendengarkan dengan saksama. Beberapa orang tua datang berpayungan bersama anak-anak mereka, menepiskan rintik hujan sebelum duduk dan menyatu dalam barisan yang sudah terbentuk.

Doa khotmil Qur’an dibacakan bersama, dipimpin oleh Gus Inan, dengan harapan memperoleh kebaikan dan keberkahan. Anak-anak masih ada yang bermain kecil di sela-sela doa, sementara orang tua mengikuti dengan khusyuk sesuai caranya masing-masing.

Suasana kembali mencair saat pembagian door prize yang disponsori oleh Kids Fun untuk anak-anak. Sedangkan untuk para orang tua, hadiah diperoleh dengan menuliskan ulasan Google Maps lokasi PAUD Terpadu Salsabila Darussalam, lalu dipilih dari ulasan yang paling menarik.

Sementara itu, anak-anak yang ingin mendapatkan hadiah harus melewati beberapa tantangan dari guru. Ada yang dites hafalan tepuk puasa, surat pendek, dan shalawat; ada pula yang diminta menyebut nama guru hingga menghitung jumlah guru yang berkacamata.

Lucunya, ada seorang anak yang mengaku berpuasa penuh, lalu mendapat pertanyaan:
“Sahur dan bukanya pakai apa?”
“Daging.”
“Sahurnya jam berapa?”
“Jam 5.”

Tawa kecil dan sorak riang pun pecah ketika jawaban spontan itu terucap.

Tak lama kemudian, adzan Magrib berkumandang. Seluruh yang hadir membaca doa berbuka dan doa makan bersama. Sore tasmi’ Jus 30 dan buka bersama itu pun ditutup dengan sederhana—hangat, riuh, dan tetap menyisakan kesan kebersamaan di tengah rintik hujan Ramadhan.

Penulis : Indi | Editor : Nuril

Tinggalkan Balasan