Belajar Menjadi “Hero” dari Spirit Isra’ Mi’raj

Sumber: Media SID

YKD – SMP dan SMA Islam Darussalam menggelar acara peringatan Isra’ Mi’raj dengan tema “Remaja Tangguh di Era Global Melalui Spirit Isra’ Mi’raj” pada Senin (19/1). Acara yang berlangsung di Pendopo Al-Khadijah ini diikuti oleh seluruh warga SMP dan SMA Islam Darussalam.

Acara diawali dengan pembacaan Maulid Simtudduror, kemudian dilanjutkan dengan mauidzoh hasanah yang disampaikan oleh Ustadz Ahmad Mujib Romadhon sebagai puncak acara.

Dalam mauidzoh tersebut, siswa dan siswi diajak untuk menyelami makna Isra’ Mi’raj secara lebih mendalam. Isra’ Mi’raj tidak hanya dipahami sebagai peristiwa diterimanya perintah sholat, tetapi juga sebagai momentum spiritual yang mengandung pesan penguatan mental dan ketangguhan diri, khususnya bagi generasi muda.

Ustadz Ahmad Mujib Romadhon mengajak para siswa untuk tidak hanya menjadi “minion”, melainkan berusaha menjadi sosok yang memiliki peran penting layaknya “hero” dalam permainan Mobile Legends. Menurut beliau, minion adalah simbol individu yang tidak memberi dampak, sementara hero adalah pribadi yang kehadiran dan kehilangannya dirasakan oleh banyak orang.

Beliau menjelaskan latar belakang terjadinya peristiwa Isra’ Mi’raj, yakni ketika Nabi Muhammad SAW berada dalam kondisi yang sangat berat. Dalam waktu yang berdekatan, Rasulullah SAW kehilangan dua sosok penting dalam hidupnya, yaitu Khadijah ra., istri setia yang senantiasa mendampingi perjuangan beliau, serta Abu Thalib, pembesar Bani Hasyim yang selalu melindungi dan mendukung dakwah beliau.

Setelah kehilangan dua sosok pelindung tersebut, tekanan terhadap Rasulullah SAW semakin berat. Berbagai bentuk penghinaan dan intimidasi pun beliau alami, hingga akhirnya beliau berhijrah ke Thaif untuk berdakwah. Namun, di tempat tersebut beliau kembali mendapatkan perlakuan yang menyakitkan. Dalam kondisi penuh kesedihan inilah Rasulullah SAW dipanggil oleh Allah SWT untuk menghadap dan menerima perintah salat sebagai sebuah hadiah yang memberikan ketenangan serta penguat hati.

Ustadz Ahmad Mujib Romadhon menegaskan bahwa salat bukan sekadar kewajiban, apalagi beban, melainkan hadiah dari Allah SWT, baik bagi Nabi Muhammad SAW maupun bagi umat Islam. Beliau mengibaratkan sholat seperti fitur “recall” dalam permainan Mobile Legends, yakni ketika seorang hero kembali untuk memulihkan kekuatannya sebelum melanjutkan perjuangan.

Lebih lanjut, beliau kembali menekankan pentingnya menjadi “hero” dalam kehidupan nyata. Jangan sampai hanya menjadi “minion” yang kehadiran maupun kehilangannya tidak dirasakan. Beliau mengibaratkan hal tersebut seperti melayat ke suatu tempat tanpa mengetahui siapa yang meninggal, sehingga tidak meninggalkan kesan dan makna yang mendalam.

Agar dapat menjadi “hero” yang sesungguhnya, seseorang harus kuat dan sabar dalam berjuang, sebagaimana teladan yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam kesempatan tersebut, beliau mengutip perkataan Imam Syafi’i:

“و مَن لَمْ يَذُقْ مُرَّ التَعَلّمِ سَاعَةً  * تَجَرَّع ذُلَّ الجَهْلِ طُولَ حَيَاتِهِ ”

(Barang siapa yang tidak mau merasakan pahitnya menuntut ilmu walau hanya sesaat, maka bersiaplah menanggung kebodohan sepanjang hayat.)

Seseorang harus sabar dan kuat supaya benar-benar menjadi “Hero” yang berkualitas. Kesusahan dan kesabaran itulah yang kelak akan dibalas dengan ketenangan dan kebahagiaan hati. Hal ini menjadi penting di tengah fenomena banyaknya orang yang tidak memiliki keahlian, tetapi berbicara seolah-olah paling memahami, sehingga justru menjerumuskan diri sendiri.

Beliau juga menyinggung bahwa pada masa lalu, ketika peperangan masih sering terjadi, manusia terbentuk menjadi pribadi yang kuat karena disiplin yang tinggi. Pada masa tersebut, tidak ada ruang untuk kesalahan, karena kesalahan berarti kematian. Berbeda dengan masa damai saat ini, ketika manusia justru sering kali terlena dan lalai.

Sebagai penutup, Ustadz Ahmad Mujib Romadhon menyampaikan pesan bahwa berbagai kesulitan yang dialami selama menjalani kehidupan di pondok merupakan cobaan yang akan mengangkat derajat. Beliau berharap setiap cobaan yang dihadapi di pondok dapat membuahkan hasil nyata di masa depan.

Reporter: Rokhmatul Huda | Editor: Adhwa N

Tinggalkan Balasan