Menjaga Kewarasan Ala Fahruddin Faiz

Sumber: Dokumentasi pribadi

Identitas buku

Judul : Menjaga Kewarasan

Penulis : Fahruddin Faiz

Penerbit : MJS Press

Halaman : xiv + 122

Ukuran : 13 x 19 cm

Sebagai pecinta sejati, ngga dong… fans berat pak Faiz, belum afdol rasanya kalau ngga beli buku beliau, kan ya? Buku ini saya beli saat ada bazar di belakang Grahatama, mungkin harganya 11 12 dengan biasanya, tapi tak apa, saya lebih menikmati suasana yang ada.

Awalnya saya ngga berniat beli buku, karena agak eman-eman aslinya untuk membeli buku tanpa ada “karena” atau alasan yang jelas urgent banget. Apalagi bagi saya yang tidak hobi baca dan lebih mempertimbangkan aspek fungsional daripada untuk koleksi. Tapi, lagi-lagi batinku memberi masukan “rapapa, pisan-pisan, melbu meng bazar, masa ora tuku apa-apa?” translitenya “nggapapa, sekali-kali, masuk bazar, masa ngga beli apa-apa?”. Bingunglah saya, berdiri mematung di samping tumpukan buku MJS Press.

Ternyata, memilih satu di anatara banyak pilihan yang disukai, susah ya?
Aslinya mahh mau semua, tapi budgetnya yang belum ada. Setelah dipertimbangkan dan muncul angka 1 ton hahaha… terpilihlah buku “Menjaga Kewarasan” karena pikiranku agaknya memang kurang waras, seperti sering melebih-lebihkan sesuatu, merasa ngga enakan, merasa diri kurang, dan lain sebagainya.

Sinopsis

Buku ini secara garis besar membahas tentang 4 masalah yang sering dihadapi manusia di era yang serba cepat ini yaitu self love, people pleaser, overthingking and insecurity, dan mindfulness. Jurus pertama yang disoundingkan pada bagian pengantar buku ini tentu bukan tahu goreng atau tahu walik yaa, tapi “tahu diri” dan “tahu batas”. Jadi, kalau bukan kita yang dia inginkan, ya tahu diri aja sih, mending cari yang lain kan?

Kelebihan

Waktu pertama membaca, rasanya kaget. Bukannya Pak Faiz kalau di youtube berkata dengan halus dan lemah lembut ya? Kenapa saat membaca buku beliau, kok saya merasa tertampar, tersindir, sampai terpental ya… (contoh berlebihanku) mungkin juga karena nada bacanya pakai logat saya sih hehe…

Pak Faiz secara to the point (singkat, padat, dan jelas), tidak bertele-tele, menuliskan ciri-ciri dan analogi dari apa yang sedang beliau jelaskan.

Misalanya dituliskan 8 ciri-ciri manusia self hatred mindset (mindset membenci diri sendiri). Salah satu cirinya adalah suka membandingkan diri dengan orang lain. Ada lagi dijelaskan kalau orang yang selalu ingin menyenangkan orang lain, terlebih karena takut orang lain ngambek, masuk dalam list ciri umum orang people pleaser.

Membacanya saja langsung membuat “iki kok koyo aku cahhh” (ini kok seperti diriku yak guys).

Tak hanya menuliskan ciri-cirinya, buku ini juga menjelaskan bagaimana langkah-langkah keluar dari jiwa-jiwa yang kurang baik. Seperti tips mengatasi overthingking dengan beberapa poin juga. Pada poin ke-2 contohnya, dengan menyikapi segala sesuatu secara biasa, simple, dan wajar. Kalau kata Baskara di lagu evaluasi (baca pakai nada) “masalah yang mengeruh, perasaan yang rapuh, ini belum separuhnya, biasa saja, kamu tak apa”.

Jangan-jangan Baskara pernah baca buku Menjaga Kewarasan ya? (ngga gitu konsepnya sih).

Pendapat para filsuf juga dikutip dan dijelaskan maknanya menurut Pak Faiz sendiri loh… contoh beberapa gagasannya:

“Cintai dirimu sendiri, hargai dirimu sendiri, karena tidak ada orang sepertimu dan tidak pernah ada lagi”

-Osho

“Mencintai diri sendiri adalah fondasi untuk mencintai orang lain.”

-Thich Nhat Hanh

Dua saja ya, kalau mau kata-kata yang lain, beli bukunya dulu ya…

Kekurangan

Buku ini nggak ada klimaksnya, jadi kalau yang ngga suka buku self-improvement, sepertinya akan bosan membacanya. Nggak kayak novel yang bisa ada senang dan sedihnya, nggak kayak drama sinetron  yang ada bumbu-bumbu romantisnya.

Hal membosankan lainnya adalah tidak adanya ilustrasi di sela-sela pembahasan. Kalau ada ilustrasinya kan mungkin setelah kita baca dan lihat ilustrasi itu rasanya kayak, “aduh aku banget nih”, jadi feel dari self-nya ada gitu hehe…

Ada satu hal lagi, tentang cover bukunya, bagus, seperti menyimpan filosofi tersendiri, tapi saya mengangap itu sebagai misteri, karena ngga paham, dan tidak dijelaskan juga dalam bukunya.

Secara keseluruhan, buku ini cocok dibaca gen-Z, apalagi kalau lagi merasa ngga waras, gara-gara kebanyakan scrolling, mending baca buku ini, semoga sih merasa diingatkan, dipedulikan, dan dinasehati ya..

Penulis : Indi Rida Anjani | Editor : Nuril

Tinggalkan Balasan