Antara Kebebasan Pers dan Etika Jurnalistik: Ketika Pesantren Dijadikan Komoditas Konten

Beberapa waktu terakhir, dunia pesantren lagi-lagi jadi bahan obrolan publik. Entah kenapa, setiap kali ada isu soal pesantren, masyarakat seperti terbagi dua: yang benar-benar paham dan yang cuma ikut-ikutan rame. Mulai dari tuduhan soal “feodalisme pesantren”, kasus kekerasan seksual yang bikin miris, sampai musibah robohnya musholla Pondok Pesantren Al-Khoziny yang sempat bikin linimasa penuh ucapan duka. Belum sempat napas, eh, muncul lagi tayangan “Xpose Uncensored” di Trans7 tanggal 13 Oktober 2025 yang menyorot kehidupan pesantren dan beberapa sosok Kyai dan Bu Nyai. 

Terdapat sosok KH. Anwar Manshur, pendiri Pesantren Hidayatul Mubtadi’at Lirboyo. Tayangan yang disiarkan pada 13 Oktober 2025 itu memicu kegaduhan public khususnya Masyarakat peaantren karena dianggap menampilkan narasi yang tidak proporsional, seolah menonjolkan kemewahan dan gaya hidup berlebihan dibalik figur yang dihormati jutaan santri.

Di Tengah momentum peringatan Hari Santri 22 Oktober mendatang, peristiwa ini membuka perbincangan hangat di Masyarakat tentang bagaimana media memperlakukan dunia pesantren dalam bingkai kebebasan pers, dan bagaimana masyarakat memahami pesantren yang kerap dituduh feodal dan tertutup. Padahal, tuduhan semacam itu sering lahir dari ketidaktahuan terhadap nilai-nilai dan konteks budaya pesantren itu sendiri. 

Tidak ada yang menolak pentingnya kebebasan pers. Ia adalah napas demokrasi dan penjaga transparansi publik. Namun, kebebasan tanpa etika akan berubah menjadi kekacauan. Dalam Kode Etik Jurnalistik Indonesia, wartawan diwajibkan menyajikan berita secara berimbang dan tidak beritikad buruk.

Prinsip utama jurnalistik, sebagaimana dikatakan Society of Professional Journalists, adalah “Seek truth and report it” carilah kebenaran dan laporkan dengan jujur. (SPJ Ethics Code, 2014) Sayangnya, di era media digital dan televisi yang kompetitif, prinsip itu sering kalah oleh logika rating dan sensasi. Banyak tayangan yang menjadikan realitas sosial, termasuk kehidupan pesantren, sebagai komoditas konten untuk menarik penonton. Alih-alih memperkaya wawasan publik, yang muncul justru potongan-potongan narasi yang terlepas dari konteks, hingga menimbulkan salah paham dan stigma negatif.

Pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan agama. Ia adalah ruang pembentukan adab, moral, dan karakter. Dalam kultur pesantren sesungguhnya, seorang kiai dihormati bukan karena harta atau penampilan, melainkan karena keilmuannya dan ketulusannya membimbing umat. Tradisi penghormatan itu sering kali tampak “megah” di mata kamera, tetapi sesungguhnya lahir dari kecintaan santri kepada guru, bukan dari kemewahan duniawi.

Para jurnalis sering bicara tentang frame of reference dan field of experience. Intinya, setiap orang melihat dunia dari bingkai pengalaman dan latar belakangnya sendiri. Kalau santri melihat kiai naik mobil bagus, yang terlihat adalah kerja keras dari bekerja dan simbol penghormatan terhadap ilmu. Tapi kalau jurnalis yang jarang nongkrong di pesantren melihat hal yang sama, bisa jadi yang muncul di kepalanya malah “wah, ini hidupnya glamor juga ya.” Dua realitas yang sama, tapi hasilnya bisa jauh banget tergantung siapa yang pegang kameranya, dan dari sudut mana dia mengarahkan lensa.

Masalahnya, tayangan seperti “Xpose Uncensored” ini lupa kalau pesantren bukan sekadar tempat tinggal kiai dan santri. Ia adalah ruang hidup dengan nilai, tradisi, dan tata hormat yang punya konteks spiritual sendiri. Kalau konteks itu diabaikan, hasilnya ya seperti sekarang: kegaduhan. Padahal, kalau mau sedikit saja memahami field of experience pesantren, mungkin narasi yang muncul tidak akan sesempit “kemewahan di balik kesederhanaan”.

Ketika media menyorot kehidupan pesantren tanpa memahami nilai-nilai spiritual dan sosial di dalamnya, yang muncul adalah kesalahpahaman publik. Padahal, pesantren telah menjadi benteng moral bangsa sejak sebelum Indonesia merdeka. Oleh karena itu, pemberitaan yang tidak proporsional bukan hanya merugikan satu tokoh, tetapi juga mencederai citra lembaga yang berkontribusi besar bagi pendidikan akhlak di negeri ini.

Santri tentu berhak merasa kecewa terhadap cara media menampilkan dunia pesantren, namun kemarahan itu seharusnya diolah menjadi kritik yang cerdas dan santun. Media perlu diingatkan bahwa dalam setiap berita ada tanggung jawab moral untuk menjaga martabat manusia. Mencari rating tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan keutuhan makna dan kebenaran.

Kebebasan pers seharusnya menjadi sarana mencerdaskan bangsa, bukan alat untuk memecah-belah atau memperkeruh pemahaman masyarakat. Jurnalis yang bijak adalah mereka yang berani mencari kebenaran, bukan hanya kehebohan. Sebaliknya, pesantren juga perlu mulai aktif membangun literasi media, agar dapat menjelaskan nilai-nilai luhur yang sering disalahpahami publik modern.

Kasus tayangan Xpose Uncensored seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi dunia media dan masyarakat luas. Di era kebebasan informasi, kita semua dituntut untuk bijak. media harus beretika, publik harus kritis, dan pesantren harus komunikatif.

Ketika pesantren diframing secara negatif, yang diuji bukan hanya nama baik kiai, tetapi juga kematangan moral kita sebagai bangsa dalam menilai kebenaran. Karena itu, kebebasan pers dan etika jurnalistik bukan dua hal yang bertentangan, melainkan dua sayap yang seharusnya terbang seimbang demi kebenaran dan kemaslahatan bersama.

Di tengah derasnya arus informasi, santri dituntut untuk tetap menjadi penyejuk, tidak mudah terpancing oleh narasi yang menyesatkan, tapi juga tidak diam ketika kebenaran dipelintir. Santri boleh marah, tetapi dengan adab. Marah bukan untuk menyerang, melainkan untuk menegakkan martabat kebenaran.

Kebebasan pers dan etika jurnalistik bukan dua kutub yang saling bertentangan, tetapi dua sayap yang harus terbang seimbang. Media yang bebas tanpa etika akan kehilangan kepercayaan, sementara pesantren yang tertutup dari dialog akan kehilangan peluang untuk dipahami dunia luar.

Maka, marilah kita belajar dari semua peristiwa ini, dari tayangan yang memicu kontroversi, dari musibah yang mengundang empati, hingga dari semangat Hari Santri yang tidak lupa semangat Ulama dan Santri penuh damai. Karena pada akhirnya, pesantren bukan tempat feodal, tapi tempat lahirnya manusia beradab yang mengajarkan bagaimana menggunakan kebebasan dengan tanggung jawab, dan ilmu dengan keikhlasan.

Penulis: Alfian Hamid | Editor: Nayla Sya