Menyimak Jejak Sunyi Ibu dalam Satu Malam

Malam itu, Selasa (27/1), menjadi pembuka dari rangkaian acara tahunan Pondok Pesantren Nurul Ummah Putri: Haflah Akhirussanah, Hari Lahir ke-39, dan Pekan Pustaka ke-20. Dengan nuansa yang sengaja dirancang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, panitia menghadirkan sebuah sarasehan bertajuk “Satu Malam Bersama Ibu”. Acara ini secara khusus menghadirkan Ibu Nyai Hj. Barokah Nawawi sebagai pembicara, dengan Ibu Rahmawati Khusnul Lathifah sebagai moderator.

Sarasehan malam itu terasa istimewa. Bukan sekadar forum berbagi cerita, melainkan juga ruang sunyi yang perlahan dIbuka. Ibu mengajak kami masuk ke dalam lini masa perjalanan hidup yang selama ini tersimpan rapi, tanpa pernah meminta sorotan.

Dalam satu malam, kami seolah diajak menyusuri bilik-bilik waktu yang panjang, penuh makna, dan sarat perjuangan. Tanpa disadari, momen itu membawa kami mengenal sosok Ibu lebih dekat, bukan hanya sebagai pengasuh, tetapi sebagai sosok dengan kisah hidup yang luar biasa.

Suasana euforia bercampur hangat memenuhi ruangan. Tawa pecah di beberapa bagian, tetapi tak jarang pula mata harus diseka ketika kisah perjuangan itu menyentuh sisi paling dalam dari perasaan kami. Cerita demi cerita mengalir, menyingkap perjalanan panjang seorang perempuan yang memilih jalan sunyi demi ilmu dan pengabdian.

Ibu menuturkan kisahnya sejak keinginan besar untuk mondok dan menuntut ilmu. Mulai dari ngaji di Ngrukem, berlanjut mondok di Krapyak, juga Kediri. Setiap tempat menjadi saksi tumbuhnya kesabaran, keteguhan, dan keuletan. Perjalanan itu kemudian berlanjut hingga ke Baghdad, sebuah fase yang kembali membuat kami tertegun. Seperti mendengar kisah tetralogi.  Di negeri asing, dengan budaya dan lingkungan yang sama sekali baru, Ibu belajar membaur dan beradaptasi. Kesabaran, kegigihan, serta suka cita mewarnai setiap langkah perjuangannya.

Dalam setiap kisahnya, Ibu tampil sebagai sosok yang percaya diri, legawa menerima keadaan, dan teguh melangkah tanpa mengeluh. Lebih dari itu, Ibu mengajarkan arti menjadi perempuan yang tangguh, adaptif, dan percaya pada kemampuan diri sendiri.

“Santri itu jangan pernah merasa rendah diri (insecure). Setiap potensi yang sudah diberikan oleh Gusti Allah pada kita harus kita muliakan,” tutur Ibu.

“Sebagai santri kita harus optimis. Kita diberi ilmu yang lebih, ya harus disyukuri,” ucap beliau pula.

Pesan Ibu tidak berhenti pada cerita masa lalu. Ia menekankan pentingnya relasi, pengalaman khidmah, dan proses hidup di pesantren yang sering kali dianggap sepele. Menurutnya, pengalaman-pengalaman itulah yang kelak benar-benar menjadi bekal saat terjun ke masyarakat. Seperti pengalamannya di Baghdad dan saat awal-awal memutuskan mukim di Kotagede, ketika kemampuan berjejaring dan keberanian membaur dengan lingkungan baru menjadi kunci bertahan dan berkembang. Pesantren, bagi Ibu, adalah ladang luas untuk menimba pengalaman sebanyak-banyaknya.

Ibu juga mengingatkan pentingnya kepekaan terhadap keadaan sekitar. Dari kepekaan itulah peluang-peluang muncul. Sikap ini tecermin dari perjalanan hidupnya, bagaimana Ibu mampu membaca situasi, merespons persoalan, dan mengambil langkah solutif. Bahkan waktu itu, dalam keterbatasan ekonomi, Ibu melihat peluang untuk berdagang sebagai jalan bertahan. Dari sana, kami belajar bahwa masalah itu bukan untuk ditakuti, melainkan dipahami dan diolah menjadi solusi.

Dari sosok Ibu, kami belajar tentang kemandirian perempuan—bukan hanya secara spiritual dan intelektual, tetapi juga finansial. Sebuah teladan yang tidak lahir dari kemewahan, melainkan dari perjuangan panjang yang dijalani dengan ketulusan.

Malam itu, rasanya kami patut berbangga. Dalam waktu yang singkat, kami diizinkan menjadi bagian dari sebuah perjalanan hidup yang panjang, penuh dedikasi, keikhlasan, dan pengabdian dari sosok yang selalu menjadi panutan kami semua.

Konon, sebuah perjalanan bukan sekadar tentang menengok kehidupan di masa tertentu, tetapi tentang mengambil refleksi dan memandang hidup dengan sudut pandang yang baru. Semoga perjalanan sunyi nan panjang yang malam itu terungkap, tidak hanya menghadirkan kisah masa lalu, tetapi juga menjadi refleksi bersama—mengajarkan arti perjuangan, keteguhan, dan keberanian untuk terus melangkah ke depanya.

Terima kasih Ibu, untuk kisah indah yang telah Ibu bagikan kepada kami. Salam takzim dan penuh cinta dari kami semua.

Penulis: Diah Nurasih | Editor: Nayla Sya

Tinggalkan Balasan