Dilema Warga Lokal Rasa Rantau

Sumber: Pinterest.com / Aocel Bera

Sering kali aku dianggap pendatang, padahal sejak lahir aku di sini-sini aja. Satu hal yang sebenarnya kupertanyakan adalah mengenai sikap orang-orang yang pernah menjadi lawan bicaraku. Entah apakah mereka benar-benar tidak tahu kalau aku itu warlok (warga lokal), atau memang tidak percaya saja kalau aku bisa berbahasa Jawa. Akta kelahiranku yang tak palsu menjadi bukti bahwa aku 21 tahun silam dilahirkan di kota ini, Yogyakarta istimewa. Dan nggak berhenti sampai lahir saja, aku tumbuh hingga menjadi diri yang sekarang tanpa pernah jauh-jauh dari kota yang masih punya vibes ibukota.

Tapi sebenarnya lagi, aku punya jawaban, atau mungkin lebih tepatnya dugaan mengapa fenomena ini bisa terjadi. Ya karena aku sendiri. Meskipun mengaku-ngaku bisa berbahasa Jawa, nyatanya aku hampir selalu berbicara menggunakan bahasa Indonesia. Alasanku, sih, karena sudah terlanjur terbiasa. Lingkungan tempatku hidup berisikan orang-orang rantau dari berbagai daerah, termasuk dari luar pulau. Yah, jangankan tetangga, ayah ibuku pun orang rantau. Ayahku asli pantura, lebih tepatnya Jepara, Jateng, sementara ibuku berdarah Melayu, lahir di Pontianak, Kalbar.

Dipikir-pikir, itu juga yang membuatku seperti krisis identitas. Aku bisa paham bahasa Jawa selain karena teman-temanku adalah orang Jawa, tetapi juga karena ayahku kadang kala menggunakannya. Mungkin memang tak selalu, karena ayahku juga sering berbahasa Indonesia agar ibuku bisa memahami tanpa perlu dijelaskan arti. Begitu pun ibuku, meskipun membawa dialek Melayu, tetap saja bahasa Indonesia yang digunakan. Sesekali ada sih Melayu-nya, dan bagiku itu mudah saja dipahami. Toh mirip bahasa kartun khas negeri tetangga juga (sudah biasa dengar).

Tapi tetap saja, rasanya greget. Aku tak mau dianggap tidak paham bahasa Jawa hanya lebih sering menggunakan kata “nggak” dan “kamu” alih-alih “ora” dan “kowe”. Meskipun memang, lidahku kaku-kaku semu jika diminta berbicara bahasa Jawa. Jatuhnya tak fasih, bahkan sampai dikira orang luar Jawa. 

Pernah suatu ketika aku sedang diniyah bersama Abah Yai. Kala itu adalah bagianku untuk presentasi, membacakan makna gandul berbahasa Jawa (pegon). Lidahku terpeleset sedikit saat mengucapkan suatu kata. Ditanyalah oleh beliau. “Asalnya mana?”

Teman-temanku yang sudah menahan tawa terlepas juga ketika kujawab pertanyaan itu dengan “Mbantul..” Pasalnya memang aneh, warga Bantul tapi tak lanyah Jawa, tak medhok. Abah Yai kala itu hanya tersenyum lantas bercerita sedikit tentang penggunaan berbagai bahasa untuk kata tersebut.

Peristiwa tersebut tidak hanya terjadi sekali. Di suatu pelajaran nahwu, kala itu bahasannya adalah tentang fiʿl muqārabah, yakni fi’il (kata kerja) yang menunjukkan makna hampir terjadi, nyaris sampai, tapi belum benar-benar terjadi. Kalau diartikan ke dalam bahasa Indonesia, tiap fi’il tersebut bermakna ‘hampir’. Dari awal memang sudah agak bingung aku mau men-Jawa-kannya seperti apa. Kalau ‘arep’ nanti kok kayak dari kata ‘mau’, kalau ‘meh’ kok kayak kureng. Akhirnya, kutambahkan huruf  ‘a’ di depannya: ‘ameh’. Kukira itu sudah bahasa yang aman, ternyata, Abah Yai notice lagi.

“Bahasa ngendi kui?” ucap beliau berkernyit. Aku yang ditanya agak nge-freeze dulu, bingung menjawab apa. Aku sendiri tak yakin itu bahasa mana. Tapi malah mbak-mbak kelasku yang menjawab, “Mbantul..” Aku setengah ragu setengah merasa tervalidasi. Pada akhirnya bahasa yang digunakan adalah “arep”, antisipasi ada yang tak familiar lagi. Meskipun ketika tanpa huruf ‘a’, kata ‘ameh’ lebih merakyat, sih.

Padahal, aku bukannya sama sekali tak pernah memakai bahasa Jawa. Kadang-kadang tetap lolos juga kata-kata kecil: nggih, yawis, sek, jarene, dll. Sekalinya njowo dengan dosis lebih tinggi, dibilang wagu pula aku. 

Respek king sama orang yang tetap berbahasa Jawa ketika berbincang denganku. Walaupun jujur aja, agak khawatir nggak bisa ngimbangi. Tapi aman aja lah, pakai bahasa apa pun ucapanmu akan tetap kutanggapi. Dengan menulis ini aku juga jadi refleksi, bahwa mengajak berbahasa Indonesia bukan berarti tak menghargai, justru itu dalam rangka memahami. 

Penulis: Nayla Sya | Editor: Dere

Tinggalkan Balasan