Di Bawah Derai Hujan

Di antara temaram cahaya lampu jalan dan senyapnya sudut kota, di bawah hujan deras yang tak kunjung reda, seorang gadis berjas hujan dengan ransel besar di punggungnya tampak berjalan seorang diri, seolah menikmati setiap tetes hujan yang jatuh malam ini.

Dingin, satu kata mewakili seluruh rasaku hari ini. 

Meski paham bahwa berharap pada makhluk hanya berujung kecewa, tetap saja aku mengulanginya, lagi dan lagi. Malam ini di bawah air hujan yang mengguyur deras, ku gali memori tentang semua kelalaianku dalam beberapa hari yang telah kujalani, kusadarkan kembali hati ini akan nikmat yang telah Tuhanku berikan juga kesalahan mana lagi yang tak boleh ku ulangi.

Percayalah pada perkataan, “Jangan melihat orang yang berada di atasmu, lihatlah orang yang berada di bawahmu.” Hari ini aku benar-benar merasakan lelahnya mencoba memahami apa yang mereka jalani selama ini tanpa fasilitas yang selama ini sudah kumiliki.

Sebagian besar dari manusia selalu mendambakan sesuatu yang lebih dari apa yang mereka miliki, mereka sudah punya motor menginginkan mobil, sudah punya mobil ingin ganti mobil yang paling terbaru, dan begitu seterusnya. Namun, seberapa banyak dari mereka yang benar-benar mensyukuri apa yang sudah mereka miliki, berbeda lagi jika itu adalah cita-cita yang ingin diraih. Hal itu justru akan menjadi motivasi untuk terus memperjuangkan apa yang diinginkan, akan tetapi apabila hanya untuk merasa iri dan ingin merasa lebih dari yang lain, sungguh hanya kesia-siaanlah yang akan kau dapat.

Mulai dari naik angkutan umum hingga berjalan ke mana-mana, aku menikmati hari itu dengan berjalan kaki. Aku mensyukuri nikmat yang sering terlupa—nikmat kaki yang sehat, sesuatu yang sangat didambakan oleh mereka yang kesulitan melangkah. Sambil menggendong tas ransel kesayanganku, aku mengucapkan sholawat di setiap langkah yang mulai terasa berat.

Sebuah motor melintas terlalu dekat denganku, membuat air hujan dari kubangan jalan terciprat dan mengenai sebagian rokku yang tidak terlindungi jas hujan. Hanya kalimat istirja’ yang bisa kulontarkan sambil terus berjalan menuju tempat pulang.

Kaki ini mulai terasa beku karena sepanjang ku melangkah ia terus terendam air yang mengalir deras memenuhi jalanan hingga trotoar, sampai sebuah kubangan membuat kaki ini terperosok. Semua itu membuatku ingin menangis dalam diam. Tapi apa gunanya, derasnya hujan kan menyapunya, membuatnya tak terlihat sehingga membuatku terlihat tak apa.

Bukan tanpa sebab semua itu kulakukan. Ada seorang kawan yang membutuhkan, sedangkan aku sendiri tidak membutuhkannya. Hingga setelah semuanya terjadi, sebuah panggilan mendesak dari kampus datang. Mau tidak mau, aku pun berangkat dengan bekal tekad yang ada.

Semuanya berjalan lancar sampai aku harus berjalan beberapa kilometer lagi untuk memenuhi panggilan berikutnya. Pada titik itu, lidahku mulai mati rasa, tersiksa oleh suhu yang jauh di atas perkiraan. Lidahku terasa kelu, tetapi syukurlah tidak apa-apa. Sesaat terlintas di pikiranku, apakah ini sebuah peringatan?”

Memang kusadari, masih banyak perkataan buruk yang keluar dari lidah ini. Tanpanya, mulut tidak akan mampu mengolah kata. Aku teringat sebuah nasihat guruku.

“Lidahmu senjatamu, maka gunakanlah ia dengan bijak”, Allah itu Maha baik, khususnya pada kita umat Nabi terakhir, kekasih-Nya, adzab pada umat beliau ditangguhkan  sampai nanti pada hari pembalasan berbeda dengan umat Nabi sebelumnya  yang akan langsung menerima konsekuensi atas maksiat yang mereka lakukan saat itu juga.

Kuamati cahaya kekuningan dari lampu-lampu jalan yang memanduku menuju arah pulang. Nuansa perkotaan memenuhi indra penglihatanku. Hawa dingin mulai meresap ke tubuh yang hanya terbungkus baju tipis dan jas hujan plastik sekali pakai; sebagian rokku bahkan sudah basah kuyup. Beruntung, jas hujan terakhir yang tersisa di minimarket itu menyelamatkan tubuhku, juga peralatan elektronik yang kubawa dalam ransel.

Sebuah pesan masuk terlihat pada layar ponselku, tertulis bahwa seorang teman mengajakku untuk pulang bersama, ia meminta ku untuk menunggunya. Baik, menunggu sudah menjadi salah satu bagian dari keseharianku sejak beberapa tahun yang lalu. Ketika jam telah menunjukkan waktu yang telah kami sepakati, aku pamit pada kawan-kawan yang lain dan mulai melangkah menuju tempat yang telah ditentukan.

Namun, ia tidak ada di sana. Kuhubungi tidak ada jawaban. Ke mana ia? Kekhawatiran mulai muncul, mungkinkah ia tersesat?”

Hingga ia mengabari bahwa ia melupakan diriku dan sudah dalam perjalanan pulang. Memang tiada kesalahan pada orang yang lupa, namun sungguh ini pengalaman pertama yang cukup membingungkan. Andai tak menunggunya diri ini sudah pulang sejak beberapa jam lalu, yahhh sudahlah, bukan salahnya juga kalau dia lupa, sungguh lupa itu adalah salah satu perbuatan setan yang membuat kita lalai.

Banjir kecil—mungkin itulah kata yang paling tepat untuk menggambarkan keadaan jalanan yang sedang kulalui. Langkahku terhenti ketika aku berada di tengah jembatan, di mana air di bawahnya mengalir lebih deras, terbawa arus yang entah menuju ke mana, aku pun tak tahu. Terlihat rumah-rumah warga di bawah sana, juga beberapa warung yang tetap buka dengan beberapa pembeli di dalamnya, menikmati dagangan yang mereka beli sambil berlindung dari lebatnya hujan.

Bus Trans—hasil dari kesabaranku menunggu, mengantarku ke sebuah halte yang jaraknya cukup jauh dari tempat tinggalku saat ini, mungkin satu atau dua kilometer. Kulihat langit perlahan kembali menurunkan beban kondensasinya. Terlintas di pikiranku: bagaimana jika hujan semakin deras sementara aku membawa laptop di dalam tasku?
Beruntung, setelah berjalan beberapa meter, aku menemukan sebuah minimarket dan segera masuk untuk mencari jas hujan sekali pakai. Setelah tidak menemukannya di rak dan memutuskan bertanya pada petugas, kudapati satu-satunya stok yang tersisa dan berhasil kubeli. Keluar dari minimarket itu, derasnya hujan sudah menungguku.” Setiap langkah ada kalanya terasa berat dan ada kalanya juga terasa ringan. Saat ia terasa ringan sesungguhnya Allahlah yang membuat semuanya menjadi mudah, sedang ketika ia terasa berat sesungguhnya itu murni hanyalah pemikiran sempit hati seorang manusia. Kulihat tikungan menanjak itu sudah tampak di ujung mataku. Ku per-intens lagi sholawat yang kubaca, agar setiap langkah yang ku anggap sulit ini kan menjadi saksi bisu perjalananku kali ini.

Andai bus mengantarku pada halte terdekat dengan tempatku pulang tentu saja diri ini tidak akan selamat dari derasnya hujan. Sungguh Maha baik Allah yang lebih mengetahui apa yang terbaik bagi hambanya, meski terkadang hal tersebut tidaklah kita sukai. Selaras dengan firman-Nya dalam Q.S Al-Baqarah ayat 216,

وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ۝

Artinya: Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

Ku ingat-ingat kembali bagaimana caranya aku bisa sampai di kota istimewa ini, ah semua proses itu, sebuah takdir yang ku perjuangkan, semua yang terjadi atas izin-Nya atas kehendak-Nya hingga hari ini aku bisa sampai di sini di kota istimewa, sang kota impian. 

Yang akhirnya mempertemukanku dengan banyak orang baik, juga pada  sang Murobbi, guruku, orang tua lainku yang derajatnya bahkan lebih mulia daripada orang tua kandungku. Tempat di mana hari-hariku sebagai mahasiswi akan kuhabiskan. Bersama keluarga baruku: Abah, Ibu, dan kalian.

Hingga akhirnya langkah kaki ini telah sampai di depan sebuah gerbang dengan ukiran besar berwarna hijau di atas tembok bangunan itu, bertuliskan “Pondok Pesantren Nurul Ummah Putri”.  Sekian.

Penulis : Kamiela | Editor : Delsa

Tinggalkan Balasan