
Sumber: instagram.com/tahilalats
Hari Jumat yang alhamdulillah–masyaallah–tabarakallah, segala kerjaan terasa seperti jalan tol, lancar jaya bebas hambatan. Sayang, menjelang peluit kick-off tanda berakhirnya waktu menjadi budak korporat, datang seutas pesan yang mengguncang kedamaian jiwa dan raga. Ibu Pemred tercinta mengingatkan tanggung jawab saya sebagai Takmir Rumah Damai, yaitu membuat sebuah coretan untuk mengisi ayat-ayat di Rumah Damai. “Deadline-nya besok”, susulnya. Sore yang mulanya terasa begitu cerah seketika menjadi sedikit mendung, meskipun di luar memang langitnya sudah siap membombardir bumi dengan peluru airnya. Agak lebay, tapi begitulah rasanya ketika mendapat surat cinta tersebut.
Menulis bukanlah hal yang susah, namun memilih topik yang menarik untuk ditulis adalah titik terberatnya. Menyebalkannya, sebagian jiwa dalam diri ini memang sok perfeksionis. Ia selalu melakukan demonstrasi, menolak segala penciptaan yang tidak menarik. Untungnya, sebagian jiwa yang lain berteriak: “Alasan! bilang aja malas!”. Dialog batin seperti ini mungkin ga relate bagi beberapa orang yang sat-set. Tapi percayalah, ini nyata, apalagi bagi mereka yang sedikit introvert. Singkat cerita, saya putuskan untuk menulis sebuah cerita pada malam harinya.
Pengantar di atas sudah terlihat seperti curhatan penulis dalam novel-novel populer belum?, berlagak muak dengan pekerjaan menulisnya, biar terkesan tulisannya adalah karya spektakuler di tengah kejenuhannya. Padahal kalau tidak ingin menulis, tidak mungkin juga novel itu tertulis. Sungguh ironi penulis-penulis kondang itu, haha. Jika belum, harap maklum, saya memang bukan penulis hebat tersebut.
Pada kesempatan kali ini, saya hanya ingin bercerita. Interval di antara ayat-ayat santri yang mengantre tuk dibaca, tarikan nafas di tengah hujatan terhadap pemerintah, dan penurun tempo di zaman yang bergerak cepat mengejar kapital. Ini salah satu dari sekian kisah unik (dibaca: tolol) yang tersimpan di memori kepala saya. Sebuah asmara yang orang-orang sebut cinta, namun lebih seperti obsesi kosong tanpa tujuan yang nyata. Selamat membaca!, jangan sungkan jika ingin muntah atau menertawakannya.
Hujan Turun, Bukan Naik
Malam Sabtu selepas pesan Ibu Pemred bersemayam di room chat saya, hujan turun seakan membawa ilham dan motivasi untuk mengindahkannya. Seperti kebanyakan manusia, hujan selalu membawa kenangan bergenre melow yang entah di mana letaknya bersembunyi dalam ingatan. Ia selalu berhasil membangkitkan perasaan yang telah lama terpendam. Ia juga sukses memutus hasrat untuk mencari es kopi dari Burjo yang jaraknya cukup membuat diri klebus dibasahinya.
Setiap air yang turun dari langit, melemparkan kenangan naik ke lantai tertinggi ingatan dan pikiran. 10 Maret 2024, pertama kali aku melihatnya, perempuan anggun yang bersembunyi di bawah bayangan kedamaian. Senyum tanggung namun tegas tergambar jelas di wajahnya. Kecantikannya terpancar di antara sekian bidadari yang ada bersamanya. Mata sinis penuh percaya diri meneror bak hantu di siang yang panas. Sungguh, kau terasa begitu dekat. Bahkan tak lebih dari sejengkal dari jantungku yang berdebar tak karuan. Tak heran, kau hanya sebatas foto di layar ponsel yang kutaruh di atas dadaku sambil rebahan.
Nama adalah Informasi, Bukan Komunikasi
Sudah cukup ku dibuat penasaran oleh sesuatu yang bukan arwah penasaran. Kucari nama yang tak kuketahui sebelumnya. Seribu tanya, seribu jawab, dan seribu orang memberikan satu nama. Bukanlah tabiat manusia jika mudah puas. Aku tetap haus, merasa harus menerima konsekuensi dari nama menjadi sebuah pemahaman. Untungnya, bumi masih berputar dan membawa orang-orang baik di atasnya. Mereka yang kusebut teman, senantiasa memberi pemahaman dan dorongan, meskipun dengan sedikit ancaman. Akhirnya, kutahu siapa nama perempuan tersebut. Kutahu siapa pemilik senyum manis Americano tanpa gula nan candu yang tentu tidak akan membuat diabetes karenanya.
Aku bukan orang yang religius, tapi terkadang aku berpikir Tuhan menciptakanmu untukku. Kutipan dari sebuah buku yang mungkin mewakili isi kepalaku. Keyakinan yang selalu dipupuk oleh mereka yang baik hati menjadi temanku. Perlahan menjadi kemantapan untuk sekali lagi melempar dadu. Pertaruhan setelah kekalahan telak yang baru berlalu. Fourtwnty: merayu bukan gayaku, romansaku berbeda. Habis sudah masanya merangkai roman picisan seperti remaja puber yang baru merasakan mimpi basah. Berbekal tekad api Ninja Konoha dan haki raja kapten Mugiwara, kucoba untuk membuat langkah pertama. Pelan tapi pasti, kurangkai langkah yang direstui teman-temanku, namun sepertinya tidak dengan Tuhanku.
20 September 2024 – Pintu maya yang telah kuketahui alamatnya itu coba kuketuk. Sialnya, hidup harus terus berjalan tanpa adanya sambutan hangat. Bahkan ketika kukirim sebuah pesan pendek melalui jendelanya, tak ada satu pun kabar balik darinya. Kabar baiknya, playlist “Arabian Soul” yang telah lama berdebu kini kembali berkali-kali kuputar. Tapi sungguh sial, aku harus jatuh cinta lagi dengan lagu-lagu Arab sebagai musik latarnya. Keyakinanku, cinta dengan iringan irama “padang pasir” sepertinya lebih susah untuk digapai daripada berlatar musik “skena”.
Info Hanyalah Kabar, Bukan Hubungan
Setelah sekian strategi yang kurancang di warung kopi bersama para sekutu, sepertinya yang kubutuhkan adalah tangan Tuhanku. Percuma diri ini mengetahui banyak hal tentangnya jika tidak ditakdirkan bersamanya. Mulailah langkah-langkah memohon yang agak memaksa dilakukan sebagai strategi alternatif namun efektif di berbagai keyakinan. Doa diterbangkan membelah keheningan malam. Satu pelajaran yang kulupakan dari kekalahan sebelumnya, tangan Tuhan sebaiknya kita genggam, bukan dikotori dengan paksaan. Tapi seperti orang bodoh lainnya, ku hanya insan yang sedang bercerita dengan-Nya.
Penghujung Oktober 2024, kulihat wajah itu dengan jelas tanpa cahaya ponsel. Kau duduk di singgasana bak ratu melihat rakyatnya. Sedang ku berdiri di kejauhan menjadi salah-satu rakyat itu. Setiap mata rakyat mungkin tertuju padamu, tapi tak mungkin matamu mendeteksi keberadaanku. Bahkan kelihaianku dalam menangkap momen melalui lensa kamera hanya memperjelas sorot wajahmu. Sedang kau hanya menikmati foto cantikmu tanpa tahu siapa pembuatnya. Semakin kutahu dirimu, semakin kupaham pula akan keangkuhanmu. Berapa kali kujelaskan ke sekutuku, ini tidak akan menjadi kisah dongeng yang kalian harapkan.
Ini Obsesi Semu, bukan Cinta
Setahun berlalu, irama-irama padang pasir masih sering terputar di antrean Spotify-ku. Wajah itu masih sering singgah di layar ponselku. Bahkan tak jarang kuberpapasan dengannya yang melaju 40km/jam di atas kereta putih itu. Sebagai seorang yang sering ditempa nalarnya, terlarut dalam cinta bukanlah keahlianku. Kebodohan akannya adalah keniscayaan bagiku. Pengharapan selalu ada, namun menjalani hidup tanpa berharap kepadanya adalah jalan bijak untukku. Begitulah ungkapan seorang yang mencapai puncak ketawakalan, kepasrahan, sesuatu yang kadang disebut “nothing to lose”.
Suatu hari yang tak kutahu tanggal pastinya, pesan tak terduga masuk ke notifikasi ponselku. Bukan Ibu Pemred, bukan pula majikan korporatku. Pesan yang membawa angin segar pengharapan, melanjutkan kisah roman tanpa picisan. Kau mengirim undangan pertemuan yang seketika membungkam jari-jari untuk mengiyakan. Langit memerah, awan meredakan sengatan sang surya, alam pun tersenyum bahagia menyaksikannya. Mata bertemu mata kini tak lagi terhalang jarak dan kaca. Kopi yang telah dingin pun terasa hangat bersamanya. Kau rangkai masa lalu, kau cipta pula masa depan. Tak kusangka, suaramu lebih merdu dari simfoni orkestra klasik dan nyanyian abad pertengahan.
Konferensi itu menghasilkan perjanjian dan kepastian. Pengharapan yang hampir pupus ternyata terkabulkan. Kini ruang kosong penuh debu telah menemukan penghuni tetapnya. Sirene keras tiba-tiba menyerobot masuk ke tengah pertemuan kita. Dalam hitungan detik, kuterbangun dan melihat pesan alarm untuk segera bersiap berangkat kerja. Pagi yang menjengkelkan, ternyata pertemuan itu hanyalah mimpi belaka. Suara sirene tadi adalah alarm terakhir untuk bangun dari mimpi indah yang hanya sesaat. Kini ku harus tergesa-gesa berangkat bekerja, kembali menjadi budak korporat seperti sedia kala. Lengkap sudah pemahamanku, bahwa ini bukanlah kisah cinta yang kubayangkan, tapi obsesi semu yang terus terbayang-bayangkan. Sekian.
Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian/cerita, itu adalah kebetulan yang disengaja.
Penulis : Muhammad Fatih | Editor : Deré
