Cerpen

Cerpen

Benda Juga Punya Perasaan
Cerpen

Benda Juga Punya Perasaan

Sumber: Pinterest Kala itu, ponselku lolos dari tas bagian saku. Yang jadi masalah bukan cuma jatuhnya, tapi juga hilangnya. Aku baru sadar bahwa si biru–nama ponselku– raib setelah sudah sampai kamar asrama dari perjalanan Taman Siswa–Kotagede. Mengurangi rasa panik, kutunaikan sholat ashar terlebih dahulu. Memang, keadaan belum sembahyang adalah salah satu hal yang membuatku tergesa-gesa pulang dari acara di Taman siswa kala itu. Sungkan meminta tolong, awalnya aku nekat berangkat sendiri menyusuri jalan yang kulewati tadi. Tak jadi, untunglah ada Devi yang bersedia menemani. Membawa teman membuatku bisa tetap fokus berkendara tanpa kehilangan momen menengok kanan-kiri. Pertama, kami mendatangi Pendopo Taman Siswa yang ternyata sedang dipakai untuk entahlah apa.  “Itu merek...
Di Bawah Derai Hujan
Cerpen, Sastra

Di Bawah Derai Hujan

AI Generate Di antara temaram cahaya lampu jalan dan senyapnya sudut kota, di bawah hujan deras yang tak kunjung reda, seorang gadis berjas hujan dengan ransel besar di punggungnya tampak berjalan seorang diri, seolah menikmati setiap tetes hujan yang jatuh malam ini. --- Dingin, satu kata mewakili seluruh rasaku hari ini.  Meski paham bahwa berharap pada makhluk hanya berujung kecewa, tetap saja aku mengulanginya, lagi dan lagi. Malam ini di bawah air hujan yang mengguyur deras, ku gali memori tentang semua kelalaianku dalam beberapa hari yang telah kujalani, kusadarkan kembali hati ini akan nikmat yang telah Tuhanku berikan juga kesalahan mana lagi yang tak boleh ku ulangi. Percayalah pada perkataan, “Jangan melihat orang yang berada di atasmu, lihatlah orang yang berada d...
Ara, Luka, dan Alzhaimer
Cerpen, Sastra

Ara, Luka, dan Alzhaimer

Sumber: Pinterest.com/Mariati Kenalkan, aku Petaloka. Seorang santri biasa yang ingin membagikan sebuah kisah luar biasa. Sebuah kisah tentang seseorang dengan segudang permasalahan hidup, namun masih bisa tampil layaknya manusia paling bahagia sedunia.  Kisah ini kupersembahkan untuknya, untuk ia yang begitu baik padaku, dan untuk ia yang tak pernah Lelah membersamaiku dalam kebaikan. Namanya Ara, kami adalah teman akrab satu kamar di pesantren. Di seluruh lingkungan pesantren, ia adalah sinonim dari kata cemerlang. Piala-piala olimpiade bahasa Arab, deretan sertifikat tahfiz Al-Qur'an, dan nilai ujian yang selalu sempurna. Ia juga yang paling sibuk. Pagi kuliah, siang mengajar privat online untuk membiayai kuliahnya, sore mengaji, dan malam menulis jurnal. Begitulah Ara, ia...
Cerita Joko Bodo yang Nggak Bodo-Bodo Amat
Cerpen, Sastra

Cerita Joko Bodo yang Nggak Bodo-Bodo Amat

Sumber: Generated AI Pada zaman dahulu, ada seorang laki-laki bernama Joko Bodo. Ia sedang merasa bosan dengan hidupnya yang gitu-gitu aja. Duduklah ia di atas batu besar yang berada di tengah sungai untuk mencari kedamaian. Sambil memandang ke bawah, ia bergumam: “Kuat sekali, ya, batu besar ini. Bahkan, jika ada sepuluh sumo yang berada di atasnya, pasti tetap kuat dan tidak akan hancur. Pengin, deh, jadi batu.” Clinggg! Seketika, berubahlah Joko Bodo menjadi batu besar yang kokoh. “Wah, aku sudah berubah jadi batu! Lho, ternyata air lebih kuat dibanding batu. Buktinya, air dapat mengikisku perlahan-lahan. Sekarang, aku pengin jadi air aja, deh,” ucapnya. Saat Joko Bodo berubah menjadi air, ia berubah pikiran. “Awan sangat unik, ya? Ternyata awan berasal dari air yang m...
S, L, U, C: Jalan Menuju Soro-soro
Cerpen, Sastra

S, L, U, C: Jalan Menuju Soro-soro

Sumber: pinterest.com / Freepik “Aku nggak bisa nulis cerpen.” “Nggak apa-apa, tulis aja pengalamanmu.” “Udah dicoba, tapi susah nyusun kalimatnya.” “Yaudah, deh. Terserah mau nulis apa, resensi juga boleh. Yang penting kamu ada sumbangsih tulisan di bulan ini, ya, Kirana.” Percakapan tadi adalah awal kisah Kirana, sudah satu bulan ini ia tergabung dalam komunitas menulis di asramanya. Mahasiswa semester 3 Prodi Akuntansi di UWAW tersebut malah banyak berselancar di dunia kesusastraan, memandang lautan tulisan di buku-buku usang, dan menulis puisi. Aneh, ya? Tapi tak apa. Menulis itu kebutuhan. Tidak peduli apa jurusanmu di kampus, berbakat menulis atau tidak, menulis adalah perihal bisa karena terbiasa. Itu kata salah satu jurnalis senior Kirana. Namun, tetap saja, setia...
Sekali Lagi
Cerpen, Sastra

Sekali Lagi

Sumber: Generate AI Trigger Warning: Cerpen ini mengandung tema kesehatan mental, termasuk kecemasan dan perasaan tertekan secara emosional. Pembaca dengan sensitivitas terhadap isu tersebut disarankan untuk mempertimbangkan kondisi pribadi sebelum melanjutkan membaca. Rumah sakit sangat padat pengunjung. Orang-orang yang merasakan tubuhnya tidak sebugar biasanya, berbondong-bondong mendatangi poli masing-masing. Beberapa diantar oleh keluarga atau kerabat, beberapa yang lainnya datang seorang diri. Pasien yang sudah menginap di sana juga terlihat saling bersinggungan, berpindah dari satu ruang inap ke ruang inap yang lain. Di sudut ruangan, mushola terlihat ramai dengan harap penuh. Benar ternyata, rumah sakit adalah tempat dipanjatkannya doa paling tulus. Salah satu poli di pojo...
Cintaku Sebatas Obsesi Semu
Cerpen, Sastra

Cintaku Sebatas Obsesi Semu

Sumber: instagram.com/tahilalats Hari Jumat yang alhamdulillah-masyaallah-tabarakallah, segala kerjaan terasa seperti jalan tol, lancar jaya bebas hambatan. Sayang, menjelang peluit kick-off tanda berakhirnya waktu menjadi budak korporat, datang seutas pesan yang mengguncang kedamaian jiwa dan raga. Ibu Pemred tercinta mengingatkan tanggung jawab saya sebagai Takmir Rumah Damai, yaitu membuat sebuah coretan untuk mengisi ayat-ayat di Rumah Damai. “Deadline-nya besok”, susulnya. Sore yang mulanya terasa begitu cerah seketika menjadi sedikit mendung, meskipun di luar memang langitnya sudah siap membombardir bumi dengan peluru airnya. Agak lebay, tapi begitulah rasanya ketika mendapat surat cinta tersebut. Menulis bukanlah hal yang susah, namun memilih topik yang menarik untuk ditulis a...
Srikandhi Menjemput Rembulan 
Cerpen, Sastra

Srikandhi Menjemput Rembulan 

Sumber : Freepik.com (Karya ini merupakan finalis Lomba Menulis YKD 2025 yang diselenggarakan dalam rangka menyambut HUT ke-80 Republik Indonesia) Tahun 2157. Manusia tak lagi mengenal kesengsaraan. Teknologi telah menguasai hampir seluruh aspek kehidupan, menyajikan kenyamanan semu yang melalaikan. Langit malam di tahun ini tak lagi gulita, tak seperti dulu. Bintang-bintang palsu bertebaran di layar kubah raksasa yang menutupi kota. Teknologi menyalin bintang, namun ia tak sanggup menghadirkan rasa takjub yang dulu singgah ketika manusia memandang langit sejati ciptaan Tuhan. Di bawah kubah artifisial itu, umat manusia tak lagi mengenal semesta yang sejati. Siang dan malam penuh semu yang mereka nikmati. Lintang dan rembulan tak lain hanyalah sekadar proyeksi digital. Manusia...
Figura
Cerpen, Sastra

Figura

Sumber: Pngtree.com Malam yang dingin. Hujan enggan berhenti membasahi hamparan bumi tua yang telah bertransformasi menjadi hutan beton. Menciptakan garis-garis air yang tergambar jelas di jendela kamar. Suara gemericiknya menemaniku yang tengah sibuk mencari buku keramat karena selesai tidaknya tugasku bergantung pada catatan di dalamnya. Satu per satu laci meja belajar kubuka. Laci pertama tak ada, laci kedua pun sama. Kemudian tepat di laci ketiga, aku menyentuh sesuatu. Kuambil benda itu, sebuah kaca persegi panjang dengan kayu penuh ukiran di setiap sisinya. Figura yang sarat cerita, bahkan membuatku lupa akan tugas yang tengah meminta haknya. Bagaimana tidak, figura itu menampilkan foto dua gadis biasa yang tidak pernah terbayangkan bagaimana akhir kisah mereka. Saling merangkul, ...
Rembulan Pagi
Cerpen, Sastra

Rembulan Pagi

Sumber: Generated AI Memilih jodoh itu ibarat kita memilih pakaian. Setiap detailnya harus luwes, pantas. Juga harus melihat budget, jangan memaksakan kehendak. Toh pakaian itu mau semewah dan semahal apapun kalau dipakai tidak nyaman, ya tetap gak bakalan bikin percaya diri. Tapi ya jangan terus milih yang murah jelek, kita perlu melibatkan selera. Pokoknya semuanya harus benar-benar dipertimbangkan. Nggak usah buru-buru, nantikan ada waktunya sendiri. Ada saatnya kamu merasa yakin bahwa Dialah yang terbaik. Ku buka kembali  pesan Whatsapp  ibuk satu minggu yang lalu. Nasihatnya masih terngiang-ngiang di kepalaku. Belakangan ini memang emosionalku sering di aduk-aduk. Banyak peristiwa yang membuatku semakin bertanya-tanya. Apa salahnya masih melajang di umur 29 tahun? Per...