
Sumber: Pinterest
Satu hal yang sempat terlintas di benak kala lagi kritis-kritisnya dengan kehidupan adalah tentang bagaimana membuktikan kepada dunia bahwa gen Z itu sholat subuhnya nggak jam 6, sholat dzuhurnya nggak jam 2, sholat asharnya nggak jam 5, dan sholat maghribnya nggak jam 7. Saya serahkan ke pembaca mau meneruskan sampai bawah atau tidak, yang jelas, ini akan berisi hal-hal sok iya dengan maksud utama refleksi pribadi.
Pertanyaannya, kenapa ingin membuktikan? Kalau dikatakan gengsi mungkin bisa jadi. Ternyata diri ini masih punya sisi ingin menjaga citra baik terlebih karena membawa label seorang santri. Atau mungkin malu juga. Karena ada suatu waktu ketika merasa dibandingkan dengan orang tua yang lebih disiplin dalam hal sholat di awal waktu. Meskipun zaman sekarang stigma yang merajalela ialah ‘masih sholat aja udah bagus’. Memang, sih, tapi itu juga menambah kemirisan karena artinya parameter keimanan sudah anjlok sedemikian rupa. Sesuatu yang wajib dilakukan saja sudah dianggap keren, perkara sunnah jadi tak sempat untuk dipertimbangkan.
Allah berfirman dalam QS. An-Nisa’ ayat 103 yang berbunyi, “Sesungguhnya salat itu merupakan kewajiban yang waktunya telah ditentukan atas orang-orang mukmin.” Menurut tafsir tahlili, sholat adalah suatu kewajiban bagi orang mukmin dan mereka wajib memelihara waktunya yang sudah ditetapkan. Nah, berhubung waktunya sudah ditetapkan, kita bisa dong alokasikan waktu terbaik untuk melakukannya.
Sementara itu, Nabi bersabda, “Dari ‘Abdullah bin Mas’uud radliyallaahu ‘anhu, ia berkata: Aku pernah bertanya kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang amal apakah yang paling dicintai oleh Allah. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Sholat pada waktunya”. Ibnu Mas’uud berkata: “Lalu apa?”. Beliau menjawab: “Berbuat baik kepada kedua orang tua”. Ibnu Mas’uud berkata: “Lalu apa?”. Beliau menjawab: “Jihad di jalan Allah.”” Siapa sih yang nggak mau dicintai oleh Allah? Semoga sih bukan kita, yaa.
Dalam sebuah hadits lain yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Abu Qatadah bin Rib’iy, bahwa Rasulullah SAW bersabda: Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Aku mewajibkan umatmu sholat lima waktu, dan Aku berjanji bahwa barangsiapa yang menjaga waktu-waktu sholat pasti Aku akan memasukkannya ke dalam surga, dan barangsiapa yang tidak menjaga sholatnya, maka dia tidak mendapatkan apa yang aku janjikan.” Bismillah niat ingsun mengamankan seat surga, Aamiin.
Di sisi lain, komitmen kita kepada Tuhan juga mencerminkan kedisiplinan. Jika ibadah kepada Sang Pencipta saja suka menunda, bisa saja begitu pula ia ketika bekerja. Meskipun ditemukan lagi hal mirisnya, bahwa terkadang manusia lebih takut kepada manusia lainnya, alih-alih Tuhan yang jelas-jelas punya kendali penuh atas kehidupan. Telat kerja takut, telat sholat tetap dilanjut. Padahal, lu pada kalau kagak dikasih nikmat sama Allah kagak bakal bisa kerja woi.
Mengutip dari NU Online, sebagaimana sistem “remunerasi” yang memberi (gaji tambahan) bagi mereka yang datang lebih awal dan aktif bekerja dan hanya sebatas pengertian (tanpa imbalan tambahan) bagi mereka yang bermalas-malasan. Artinya, ampunan yang diberikan oleh Allah kepada hambanya yang mengakhirkan sholat dapat dimaknai sekadar pembebasan seorang hamba dari dosa (karena telah teledor menghadiri panggilan-Nya dalam shalat). Oleh karena itu, seorang hamba yang dalam hidupnya memiliki motivasi tinggi dalam usahanya mendekatkan diri pada Allah SWT, pastilah akan lebih bersemangat mengejar ridha-Nya daripada sekadar menghindarkan diri dari siksa-Nya.
Sebagaimana dalam An-Nashaikh ad-Diniyah wal Washaya al-Imaniyyah:
ومن المحافظة على الصلاة والاقامة لها المبادرة بها فى اول مواقيتها وفى ذالك فضل عظيم وهو دليل على محبة الله وعلى المسارعة فى مرضاته ومحابه
(Dan salah satu usaha menjaga sholat adalah bersegera mendirikannya pada awal waktu. Sungguh di situlah terdapat fadhilah yang agung. Dan sekaligus juga merupakan bukti kecintaan seseorang kepada Allah SWT, dan kecintaan atas hal-hal yang diridhai-Nya.)
Kita juga sama-sama tahu, kalau kematian itu datangnya nggak pandang waktu. Antisipasi agar tidak dipanggil Allah dalam keadaan belum sholat fardhu (na’udzubillah), bisalah kita menyegerakan sholat ketika sudah masuk waktunya. Tentu, jangan sebelum masuk waktu, itu yang nggak boleh. Khusus terkait sholat Isya’, ada berbagai pendapat soal sunnah di awal atau akhir waktu, nanti bisa dibaca-baca sendiri, yaa.
Maka saya rasa, sholat di awal waktu ini perlu dibiasakan. Kalau pada momen-momen pribadi, saya mencoba mewajibkan memiliki alasan syar’i jika melaksanakan sholat di akhir waktu. Atau setidaknya, sholat kita tidak yang ala kadarnya. Misal, sholat di akhir waktu karena mau menyesuaikan pelaksanaan jamaah (yang memang kadang sengaja diakhirkan menyesuaikan kegiatan santri). Atau sholat di akhir waktu karena berpotensi tidak khusyuk ketika di awal waktu. Atau mengharuskan diri menambah sholat rawatib terlebih dahulu. Dan seterusnya.
Yah, tapi saya juga paham bahwa bukan berarti orang-orang yang menunda sholatnya itu otomatis buruk sementara yang lain itu tidak. Barangkali seseorang telah melakukan amalan-amalan lain yang sama-sama disukai Allah, atau keniscayaan bahwa orang yang sholat di awal waktu juga bisa berbuat dosa. Hanya, atas dasar percaya bahwa semua usaha dipertimbangkan, marilah kita mengusahakan effort kecil berarti besar itu. Wallahu a’lam.
Note: Akan lebih gacor jika kalian juga membaca referensi-referensi di bawah. Feel free to discuss!
Daftar Bacaan:
QS. An-Nisa ayat 103: https://quran.nu.or.id/an-nisa/103
Pentingnya sholat tepat waktu: https://lampung.nu.or.id/warta/pentingnya-sholat-tepat-waktu-FYcjk
Keutamaan sholat 5 waktu di awal atau waktu yang tepat: https://unwaha.ac.id/keutamaan-sholat-5-waktu-di-awal-atau-waktu-yang-tepat/
Shalat di akhir waktu: https://www.nu.or.id/syariah/shalat-di-akhir-waktu-6H2wS
Sholat memang berat tapi penuh rahmat: https://nuonlinemojokerto.or.id/shalat-memang-berat-tetapi-penuh-rahmat/
Hukum mengakhirkan sholat Isya’ menurut empat mazhab: https://bincangsyariah.com/hukum-islam/ibadah/hukum-mengakhirkan-shalat-isya-menurut-empat-mazhab/
Penulis: Nayla Sya | Editor: Dere
