Elnahrowi ke Jogja, Ajak Santri Menulis Berbasis Riset dan Nalar Kritis

Sumber: Media Pondok

YKD – Panitia Hari Lahir (Harlah) ke-16 Pondok Pesantren Kotagede Hidayatul Mubtadi-ien (PPKHM) Yogyakarta menggelar Seminar Kepenulisan bertema “Membangun Tradisi Literasi dan Kepenulisan Santri Berbasis Riset dan Penalaran Kritis” di Pendopo Al-Khadijah Pondok Pesantren Nurul Ummah Putri (PPNU-Pi), Kamis malam (1/10). Seminar ini menjadi agenda pembuka rangkaian acara Harlah PPKHM dengan menghadirkan Ahmad Nahrowi (Gus Nahrowi, red.), penulis buku Jejak Heroik Santri Jurnalistik, sebagai narasumber. 

Pukul 19.30 WIB, acara dibuka oleh salah satu santri PPKHM, Alwan Naqiy, sebagai master of ceremony. Selanjutnya, ia mempersilakan K.H. Munir Syafaat (Abah Munir, red.), pengasuh PPKHM dan PPNU-Pi, untuk memberikan sambutan sekaligus membuka secara resmi rangkaian Harlah dan acara kepenulisan. Acara kemudian dilanjutkan dengan doa.

Melalui sambutannya, Abah Munir mengajak para santri untuk mengembangkan semangat menulis sebagai upaya menjaga dan menyebarluaskan ilmu. Menurut beliau, ilmu yang dipelajari tidak cukup hanya dihafalkan dan dipahami, tetapi juga perlu dituangkan dalam karya tulis agar manfaatnya dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Hal ini selaras dengan pesan Nabi Muhammad saw., “قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابَةِ”, ikatlah ilmu dengan tulisan.

Sebagai penutup sambutan, beliau menyampaikan, “Melalui kegiatan ini, semoga tumbuh girah (semangat) menulis di lingkungan pesantren dan lahir penulis-penulis baru yang mampu menghasilkan karya bermanfaat bagi masyarakat.” 

Abah Munir sedang memberikan sambutan pembuka

Memasuki acara inti, panggung diserahkan kepada Gus Nahrowi. Kreator konten dengan akun Instagram @elnahrowi tersebut kemudian disambut oleh moderator, Muhamad Alfian Hamid (Alfian, red.).  

Dalam seminar kepenulisan tersebut, Gus Nahrowi menekankan pentingnya nalar kritis bagi santri agar tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu menghasilkan gagasan dan karya berbasis riset serta argumentasi yang kuat.

“Yang paling penting adalah bertanya, ‘mengapa seperti itu?’ Itu salah satu fondasi berpikir kritis,” ungkapnya. 

Suasana para santri putra sedang memperhatikan seminar

Menurutnya, nalar kritis diperlukan untuk memahami dan merespons berbagai persoalan sosial secara mendalam, bukan sekadar mengikuti tren atau menerima informasi begitu saja.

“Tradisi santri itu hanya menjadi konsumen. Kita hanya membaca, kita hanya memikirkannya, kita hanya memusyawarahkannya, tapi tidak bisa mereproduksinya, ya kan? Tidak bisa menuliskannya.”

Maka, Gus Nahrowi mengajak para santri untuk membiasakan diri mempertanyakan sebab di balik suatu fenomena. Kebiasaan tersebut diperlukan agar santri mampu menyaring informasi dan mengolahnya menjadi tulisan yang bernilai. 

Penyerahan kenang-kenangan oleh Ketua Panitia Harlah PPKHM ke-16 kepada narasumber

Pada closing statement, salah satu pendiri Elmahrusy Media tersebut menyampaikan, “Orang-orang yang tidak mau membaca itu seperti halnya orang-orang buta yang tidak mau dikasih cahaya.” Melalui pesan tersebut, santri diharapkan tidak hanya membaca atau sekadar menyerap informasi, tetapi juga mampu mereproduksi pemikiran berbasis riset dan argumentasi yang kuat.

Dokumentasi narasumber bersama santri-santri PPKHM

Seminar tersebut kemudian ditutup oleh Alfian dengan menyampaikan kutipan dari Pramoedya Ananta Toer. “Manusia boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari masyarakat dan dari sejarah. Maka menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Editor:Nayla Sya
Dilla Azkiya

Dadio wong lirkadyo Isim Mu'rob

Tinggalkan Balasan