
Identitas buku
Judul : Harimau! Harimau!
Penulis : Mochtar Lubis
Halaman : 216
Penerbit : Pustaka Obor Indonesia
Tahun terbit : Cetakan pertama 1992
Cetakan kedua belas 2025
When people say, “mulutmu harimaumu,” Mochtar Lubis says, “sebelum kalian membunuh harimau yang buas itu, bunuhlah lebih dahulu harimau dalam hatimu sendiri.”
Kalimat sakti itu datang dari rekomendasi seorang teman di awal Desember lalu. “Ceritanya ‘gong’ banget, Ka Didi harus baca!” katanya. Begitu melihat nama sang maestro, Mochtar Lubis, bertengger di sampul, saya langsung tertarik membacanya. Maka, segera setelah carut-marut UAS usai, buku ini resmi saya “lahap”. Hasilnya? Saya kembali dibuat terpukau oleh kelihaian Mochtar Lubis dalam memainkan dinamika manusia lewat novel kelimanya ini.
Secara teknis, Mochtar Lubis menggunakan model alur campuran yang digarap dengan sangat presisi. Cerita utamanya bergerak maju secara kronologis, mengikuti perjalanan tujuh pengumpul damar yang mencekam saat menjadi sasaran buruan seekor harimau lapar. Namun, ketegangan fisik itu hanyalah permukaan. Melalui sisipan alur mundur (flashback), Mochtar Lubis perlahan “menelanjangi” masa lalu para tokohnya. Ingatan-ingatan ini mengungkap dosa, rahasia kelam, hingga rontoknya kedok Wak Katok sebagai pemimpin kelompok. Melihat struktur yang digunakan penulis, saya rasa sangat efektif untuk membangun unsur dramatik dan thriller, sekaligus menjadi kendaraan untuk kritik sosial-politik yang tajam dalam narasi ini.
Di tengah kondisi pelik itulah, terjadi “petualangan” batin di dalam diri masing-masing anggota. Di bawah tekanan maut, mereka dipaksa melakukan refleksi batin yang mempertinggi kesadaran akan kekuatan dan kelemahan diri. Di titik inilah muncul kesadaran kolektif: sebelum menghabisi harimau yang memburu mereka, mereka harus membunuh “harimau” yang bersemayam dalam ego masing-masing.
Mochtar Lubis memang punya kekhasan dalam menyelami watak asli manusia. Dalam karyanya, seolah tak ada karakter yang benar-benar putih atau benar-benar hitam. Jika di Jalan Tak Ada Ujung kita melihat Guru Isa yang memakai topeng keberanian, dalam Harimau! Harimau! Mochtar Lubis mengeksplorasi kompleksitas ini dengan lebih berani. Perpindahan narasi antartokoh terasa sangat mulus tanpa membuat pembaca bingung. Karakterisasi tokoh juga digarap dengan sangat epik. Perbedaan usia antarkarakter pun memberikan perspektif menarik. Perbedaan jenjang usia antarkarakter menghadirkan variasi sudut pandang yang mencerminkan dinamika hierarki usia, ini juga sejalan dengan pengamatan H.B. Jassin tentang adanya dua kelompok dalam novel ini yang perlu diperhatikan, yaitu kelompok tua yang sering menjadi sasaran kritik, serta kelompok muda yang penuh kesadaran, aspirasi, dan ketegasan.
Namun, sebagai pembaca saya menemukan satu catatan kecil terkait penggambaran tokoh perempuan. Sangat disayangkan, di tengah narasi yang begitu maskulin dan kuat, tokoh perempuan pada cerita ini cenderung digambarkan lemah dan lebih sering dipandang sebagai objek. Kehadiran mereka seolah hanya pelengkap atau pemicu konflik batin para tokoh pria, tanpa diberikan kedalaman karakter yang setara.
Hal menarik lainnya adalah ketika Mochtar Lubis mengalokasikan sepenggal narasi kepada sang harimau di pertengahan novel. “Sang harimau telah dua hari menderita lapar. Dia telah tua. Tenaganya tak cukup kuat lagi.” Bagian ini unik dan semacam mempertegas dikotomi antara insting alami hewan dan pilihan sadar manusia. Mengingatkan saya pada pertanyaan klasik: siapa yang sebenarnya lebih buas? Hewan menyerang karena lapar, sementara manusia melakukan kekerasan sering kali sebagai sebuah pilihan sadar.
Berbeda dengan Jalan Tak Ada Ujung yang cenderung pesimistis, novel ini terasa lebih optimis. Mochtar Lubis tampak lebih percaya pada kebaikan yang inheren dalam diri manusia. Ada pesan mendalam bahwa kemanusiaan hanya bisa dibina dengan cinta, bukan kebencian. Orang yang membenci sejatinya tidak hanya merusak orang lain, tapi merusak dirinya sendiri. Bagi saya, ada bagian yang cukup berkesan yaitu sebuah pesan: “Tuhan ada, anak-anak, percayalah. Tapi jangan paksakan Tuhan-mu pada orang lain… manusia harus belajar hidup dengan kesalahan dan kekurangan manusia lain.”
Kalimat ini menurut saya sangat berkesan. Di zaman sekarang, kita lebih sering menghakimi atau meremehkan (underestimate) orang lain karena kesalahan atau kekurangannya. Alih-alih menghakimi, Mochtar Lubis mengajak kita untuk berbenah diri dan menjadikan kesalahan dan kekurangan orang lain sebagai sebuah cara pandang untuk mengambil kebijaksanaan. Masih banyak pesan bijak yang penulis sampaikan, tidak secara gamblang menceramahi, tetapi mengajak kita merenung hingga menemukan hikmahnya.
Lantas, jika ditanya kembali: lebih buas mana, harimau rimba atau ego manusia? Jawabannya mungkin akan terasa getir tapi tak bisa terelakkan. Harimau di hutan menyerang untuk bertahan hidup, sedangkan ‘harimau’ dalam ego manusia menyerang untuk memuaskan kuasa, kesombongan, dan rasa takut yang tak terkendali. Pada akhirnya, rimba yang paling liar bukan berada di luar sana, melainkan berada di dalam lipatan hati kita sendiri yang sering kali gagal kita jinakkan.
Mochtar Lubis lewat novel ini seolah ingin menegaskan bahwa musuh yang paling sulit ditaklukkan bukanlah predator yang taringnya terlihat, melainkan kemunafikan dan keangkuhan yang bersembunyi di balik topeng ego dalam diri setiap manusia. Karena pada akhirnya, memburu harimau di hutan adalah soal keberanian fisik, sementara membunuh harimau di dalam diri adalah soal kejujuran nurani.
Jadi, siapkah kamu menjinakkan ‘harimau’ dalam dirimu sendiri?
Tertarik untuk membacanya?
Penulis: Diah Nur Asih | Editor: Nayla Sya
