
Sumber: Dokumentasi Panitia Reformasi
YKD – Pagi itu, Rabu (4/2), tiba-tiba saja selebaran calon lurah sudah membujur dan melintang di area pondok. Kertas berisi foto dan tulisan visi misi berselang-seling dengan hiasan warna-warni. Sebagian santri berkata tidak menyangka, sementara yang lain mengucapkan semangat untuk ketiga santri yang akan menjabat.

Malam sebelumnya, telah terlaksana sidang pleno yang membahas laporan pertanggungjawaban (LPJ) pengurus Pondok Pesantren Nurul Ummah Putri dan Madrasah Diniyah Nurul Ummah Putri. Selesai sidang, para pengurus berkumpul di kantor, bersiap untuk peletusan balon. Di dalam balon tersebut, terdapat lipatan kertas: berisi quotes, kosong, atau berisi satu dari tiga foto kandidat lurah. Ketiga kandidat tersebut merupakan hasil sowan Ibu Nyai, setelah menjaring semua santri mulai kelas 3M3 hingga para ustadzah yang memenuhi syarat untuk menjadi lurah.
Kurang lebih pada pukul 21.00 WIB, Dilla Azkiya dan Maya Najwa membuka satu lagi rangkaian Reformasi: Kampanye. Dua juru bicara dari ketiga calon lurah dipanggil maju ke depan panggung di Pendopo Al-Khadijah. Dari calon nomor satu, yakni Badiyaturrahmah, terdapat Meida Ulil dan Anis Arum sebagai jubir. Kemudian calon nomor dua, yakni Lis Azva Ayunina, diwakili oleh Fatimah Sufiya dan Indah Fatkhul. Sementara itu, calon ketiga, yakni Zidna Amalia Putri Hadina dijubiri oleh Isramij Dina Fairuza dan Azza Hanifah Fauzia.



Setiap jubir memiliki keunikan masing-masing dalam menyampaikan visi dan misi kandidatnya. Para hadirin terdengar riuh ramai dan tawa, apalagi ketika tiba saat ‘duplikat’ kandidat dipanggil masuk. Santri yang hadir sibuk menebak, siapakah gerangan ketiga orang yang menyamar, mengenakan topeng bergambar wajah Bu Rahmah, Bu Nina, dan juga Bu Zidna. Acara malam itu kemudian diakhiri dengan memanggil kandidat asli untuk maju ke depan. Satu langkah lagi menuju penentuan lurah baru Nurul Ummah Putri.
Kamis (5/2), pemilihan lurah Pondok Pesantren Nurul Ummah Putri Masa Khidmat 1447-1449 H dilaksanakan sejak pagi hingga sore hari. Para santri diberi surat suara untuk dicoblos pada rentang waktu yang telah disediakan. Malamnya, penghitungan dilakukan secara terbuka di Pendopo Al-Khadijah dan dihadiri oleh seluruh santri, baik dari komplek mahasiswa maupun pelajar.
Dikemas dalam tatanan sidang, penghitungan suara dipimpin oleh Robiah Nuzul Hidayah sebagai ketua sidang dan Nayla Syarifah Hiefra sebagai sekretaris sidang. Agenda ini juga melibatkan tiga orang saksi, yaitu Fatimah Sufiya, Meida Ulil, dan Isramij Dina Fairuza. Para panitia membantu jalannya penghitungan dengan sigap. Tidak butuh waktu lama untuk menghitung 276 surat suara satu per satu. Acara dimulai pukul 20.00 dan selesai pukul 22.00, sudah mencakup penghitungan suara, pembacaan surat keputusan, dan sambutan-sambutan.
Menariknya, hasil penghitungan suara tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Jika pada periode lalu selisih perolehan suara antara dua calon teratas sangat tipis, kali ini perbedaannya justru cukup mencolok.

Calon lurah nomor 2, Ibu Lis Azva Ayunina, memperoleh suara terbanyak dan resmi ditetapkan sebagai lurah terpilih dengan perolehan lebih dari 50% dari total suara sah. Ia meraih 189 suara, sementara calon nomor 1 memperoleh 67 suara dan calon nomor 3 memperoleh 18 suara. Jumlah pemilih tercatat sebanyak 276 orang, dengan 2 suara dinyatakan tidak sah.
Selesai penghitungan suara, acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan SK penetapan lurah baru serta SK penetapan dewan formatur pengurus Pondok Pesantren Nurul Ummah Putri Masa Khidmat 1447-1449 H yang dibacakan oleh ketua sidang. Setelahnya, dilanjutkan prosesi serah terima jabatan dan penyampaian sambutan dari lurah baru dan lurah demisioner.
Sambutan pertama disampaikan oleh Bu Nina, sebagai lurah baru PP Nurul Ummah Putri. Dalam sambutannya, ia mengungkapkan betapa berat perasaannya menerima tanggung jawab besar yang akan ia emban selama dua tahun ke depan.
Beberapa detik di awal pidato, Bu Nina sempat meneteskan air mata, sebuah isyarat akan besarnya amanah yang kini dipikul di pundaknya. Ia mengaku tidak pernah benar-benar meminta jabatan lurah pondok itu dipercayakan kepadanya. Semua bermula dari guyonan teman-teman karibnya yang kemudian terasa seperti “doa yang tak disengaja”.
Kini, setelah resmi terpilih sebagai lurah baru, Bu Nina berusaha menerima dan menjalankan tanggung jawab tersebut dengan penuh kesungguhan, meski diiringi rasa haru dan berat hati.
“Amanah tidak pernah salah memilih pundak. Semua sudah digariskan, dan sekarang tinggal dijalankan sebaik mungkin, semampunya,” ucap Bu Nina.
Dalam sambutan tersebut, Bu Nina juga menyampaikan harapannya kepada seluruh santri agar berkenan mendampinginya dalam menjalankan amanah. “Kami tidak berarti apa-apa tanpa panjenengan semua,” tuturnya dengan nada tulus.
Ia menyadari bahwa sebagai lurah pondok, akan ada banyak tugas yang menuntut pengorbanan waktu dan tenaga. Karena itu, di penghujung sambutannya ia menegaskan dengan mengutip dawuh Ibu Nyai: “Tiada khidmah yang berakhir sia-sia.”
Pernyataan penutup itu pun disambut gemuruh tepuk tangan para santri, seolah menjadi tanda dukungan sekaligus kesiapan untuk melangkah bersama.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ibu Isna Rokhimah selaku lurah demisioner. Dengan senyum yang tampak lega dan bahagia, Bu Isna mengungkapkan rasa syukur atas amanah yang telah ia jalankan selama masa kepemimpinannya.
Berdasarkan pengalaman panjangnya sebagai pengurus, bahkan pernah mengemban amanah sebagai lurah pondok, ia mengibaratkan pengurus seperti seorang ibu rumah tangga. Seorang ibu, memiliki banyak pekerjaan yang dikerjakan di balik layar—tidak dilihat banyak orang, jarang mendapat apresiasi, dan hampir tak pernah disambut tepuk tangan. Namun ketika sang ibu jatuh sakit dan tak mampu menjalankan tugasnya, rumah seketika terasa berantakan, makanan tak lagi tersedia di meja, dan ritme keluarga pun ikut terganggu.
Begitu pula dengan pengurus. Peran mereka sering kali tidak tampak, tetapi sangat menentukan. Sekali saja tugas-tugas itu ditinggalkan, semuanya bisa menjadi kacau. “Memang tidak ada apresiasi dan tepuk tangan, namun Allah selalu mencatat,” tutur beliau penuh makna.

Di akhir sambutannya, Bu Isna berpesan kepada seluruh santri agar bersama-sama mendukung jalannya kepengurusan yang baru. Ia menegaskan bahwa kritik tidaklah dilarang, selama disampaikan dengan santun. Larangan hanya berlaku bagi kritik yang menyakiti hati, bukan bagi nasihat yang membangun.
Penulis: Nayla Sya dan Isti Kamila | Editor: Nuril
