
Sumber: Dokumentasi Media PPKHM
YKD – Senin (2/2), bertepatan dengan malam nisyfu Sya’ban, Madrasah Diniyah Hidayatul Mubtadi-ien (MDHM) mengadakan acara Haflah Akhirussanah 1446/1447 H. Acara ini merupakan suatu momentum tahunan yang dilaksanakan rutin Pondok Pondok Pesantren Kotagede Hidayatul Mubtadi-ien Yogyakarta. Acara yang bertemakan “Khatam; Merekam Ilmu dalam Ingatan, Menyulam Ilmu Menjadi Kebaikan” merupakan rangkaian kegiatan pesantren di akhir tahun pembelajaran. Acara tersebut dimulai dari pukul 20:50 WIB hingga pukul 23:50 WIB, diikuti dengan hikmat oleh seluruh santri dan tamu undangan.
Acara ini diadakan sebagai ungkapan syukur atas tuntasnya proses belajar (walimatul hidak), sekaligus menandai selesainya satu tahun periode pembelajaran madrasah. Hal tersebut menjadi tolak ukur dalam melihat pencapaian seorang siswa selama satu tahun di madrasah. Momentum ini menjadi istimewa, terkhusus bagi siswa Kelas 2 Ulya yang telah menamatkan seluruh masa belajarnya di madrasah sekaligus menerima sanad kitab yang telah diajarkan selama belajar di madrasah dari pengasuh. diadakan sebagai ungkapan syukur atas tuntasnya proses belajar (walimatul hidak), sekaligus menandai selesainya satu tahun periode pembelajaran madrasah. Hal tersebut menjadi tolak ukur dalam melihat pencapaian seorang siswa selama satu tahun di madrasah. Menjadi momentum Istimewa pastinya, terkhusus bagi siswa Kelas 2 Ulya yang telah menamatkan seluruh masa belajarnya di madrasah sekaligus menerima sanad kitab yang telah diajarkan selama belajar di madrasah dari pengasuh.
Acara ini diikuti oleh segenap santri Pondok Pesantren Kotagede Hidayatul Mubtadi-ien dan dihadiri langsung oleh beliau Abah KH. Munir Syafa’at, selaku pengasuh Pondok Pesantren Kotagede Hidayatul Mubtadi-ien. Kemudian beliau Ustadz Minanurrahman S.H., M.H. selaku Kepala Madrasah Diniyah Hidayatul Mubtadi-ien, serta hadir pula Agus Minanullah S.Th.I, Agus Sahlul Muna S.Ag., dan Agus. H. Ahmad Nasyruddin Munir M.H., segenap Asatidz Madrasah Diniyah Hidayatul Mubtadi-ien dan segenap Pengurus Pondok Pesantren. Acara ini mengundang KH. Khoirun Niat, Lc., M. A. dari Pondok Pesantren An-Nur Ngrukem, sebagai pemberi mauidhoh hasanah dan dihadiri oleh warga dan tetangga sekitar, diantaranya Ketua RT dan Ketua RW setempat.
Setelah acara dibuka, dilanjutkan penyampaian sambutan oleh Ketua Madrasah Diniyah Hidayatul Mubtadi-ien, Ustadz Minanurrahman S.H., M.H. Pada kesempatan tersebut beliau menyampaikan terimakasih kepada segenap panitia yang telah mengsukseskan acara Haflah Akhirussanah.
Kemudian beliau menyampaikan apresiasi dan selamat kepada khotimin kelas 2 Wustha, karena hafalan Kitab Matan Alfiyah Ibnu Malik 1002 bait dan kelas 2 Ula yang telah menyelesaikan hafalan Kitab Nadhom Imrithi 254 bait. Terkhusus bagi mutakhorijin (lulusan) kelas 2 Ulya yang telah berhasil menyelesaikan semua prosesi ujian akhir di Madrsah Diniyah, diantaranya ialah ujian munaqashah risalah, munaqashah Kitab Fathul Mu’in dan ujian taftisy al kutub serta ujian tulis.

Beliau kemudian mengutip pepatah Arab: “dzā tamma amrun badā naqshuhu, jika sesuatu urusan telah selesai, maka akan nampak kekurangannya. Maka dengan begitu kita menyadari adanya sebuah kekurangan, untuk kemudian berubah menjadi lebih baik,” jelasnya.
Beliau menjelaskan, momentum ini merupakan sarana tersambungnya sanad keilmuan kita kepada para ulama dan kiai terdahulu, mulai dari para pembaca hingga kepada para mushannif. Juga terhubungnya sanad keilmuan kepada para masyaikh dan ulama dan yang telah mengkaji kitab-kitab tersebut.
“Kalian adalah orang yang hebat, orang yang menjadi produk kurikulum baru yang telah diperbaharui pada tahun 2022. Kurikulum ini sudah berjalan 4 tahun hingga sekarang, dan berhasil meluluskan siswa Kelas 2 Ulya, dimana tujuan utamanya didirikannya madrasah untuk mencetak santri yang berilmu dan berakhlaq.” tambahnya.
Beliau juga mengutip dawuh Mbah Sahal Mahfudz (Pengasuh Pondok Pesantren Maslakul Huda, Pati) “pesantren ini menjadi ruang dimana ilmu dan akhlak berjalan berdampingan, dan hal tersebut merupakan satu kesatuan yang terintegrasi. Sebisa mungkin madrasah ini menggabungkan tradisi pesantren dan kesadaran akademik, yang mana di MDHM ini terdiri dari para mahasiswa, jadi harus ada upaya untuk menggabungkan kesadaran akademik dan pembelajaran pesantren”, imbuhnya.
Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi lalaran Kitab Nadhom Imrithi, lalu prosesi sanad-an khotimin kelas 2 Ula yang berikan langsung oleh pengasuh pondok. Nama siswa khotimin diantaranya: Salwa Syahru Ramadhan, Riri Mumammad Reyhan, Akhmad Muzaki Zain, dan Muhammad Muzaki. Dilanjutkan sesi lalaran Kitab Nadhom Imrithi dan prosesi sanad-an khotimin kelas 2 Wustha yang berikan langsung oleh Pengasuh pondok. Nama siswa khotimin diantaranya: Rizqon Kafabik, Hikmah Nursidik, Ahmad Farhan Al-Fauzan, dan Muhammad Muti’ Biawamirillah.

Dilanjutkan prosesi penyerahan sanad seluruh kitab kelas 2 Ulya oleh pengasuh pondok. Nama siswa mutakhorrijin di antaranya: Eka Candra Permana (Abdul Wahid), E. Rikza Abdullah, dan Shohihuzzihni. Kemudian dilanjutkan dengan sesi pemberian ijazah sanad seluruh kitab yang telah diajarkan oleh pengasuh, Abah KH. Munir Syafa’at. Kemudian dilanjutkan dengan penyematan serban oleh pengasuh kepada mutakhorrijin.

Acara dilanjutkan dengan sambutan dari perwakilan mutakhorrijin, yang disampaikan oleh perwakilan kelas 2 Ulya oleh Abdul Wahid. Ia menyampaikan pengalamannya, bahwasannya madrasah ini telah melahirkan generasi santri yang ditempa dengan keikhlasan, diarahkan dengan kesabaran dan dibesarkan dengan doa tulus para guru.
“Madrasah ini ibarat suatu kapal yang telah dirakit oleh para masyayikh dengan perjuangan. Kemudian silih berganti dinahkodai oleh kepala madrasah dengan penuh tanggung jawab, demi untuk mengarungi luasnya samudra, yang bisa disebut sebagai lautan ilmu pengetahuan. Ini adalah suatu wasilah, suatu kunci keberhasilan seorang santri, menaiki kapal yang kokoh dan berlayar pada rute yang tepat.”, tuturnya.
“Haflah akhirussanah bukanlah akhir suatu perjalanan, akan tetapi menjadi awal amanah baru. Dari isinilah keilmuan yang kita pelajari diuji, bukan lagi diatas kertas namun diatas kehidupan yang nyata.”, tambahnya.
Tidak lupa ia menyampaikan atas nama mutakhorrijin Madrasah Diniyah Hidayatul Mubtadi-ien menyampaikan puji syukur dan banyak terimakasih kepada para masyayikh, asatidz, dan pengurus yang telah memberikan kesempatan dalam memperdalam ilmu agama di madrasah ini dan memohon doa restu semoga ilmu yang telah didapatkan dapat menjadi pedoman hidup dan bermanfaat.
Acara dilanjutkan dengan penyampaian mauidhoh hasanah oleh Abah KH. Munir Syafa’at. Beliau berpesan kepada para mutakhorijin agar tidak berhenti belajar dan lebih meningkatkan girah dan semangat dalam menuntut ilmu, disamping mempelajari ilmu-ilmu yang lain yang belum dipelajari. “tetaplah belajar dan belajar, ngaji dan ngaji,” pesannya.

Beliau berharap kepada seluruh santri agar melakukan tajdidun niat (memperbaharui niat) serta taqwiyatun niat (menguatkan niat), untuk lebih bersungguh-sungguh mengaji dan belajar.
“Jadikanlah Haflah Akhirussanah ini sebagai momentum untuk tajdidunniat wa taqwiyatuniat untuk meningkatkan girah dan semangat dalam mengaji, belajar dan beribadah kepada allah swt. sehingga kita termasuk orang-orang pilihan, khoirul ummah,” pesannya.
Acara dilanjutkan dengan pengumuman penghargaan siswa berprestasi dan siswa teladan MDHM 1447 H yang disampaikan oleh Ustadz Chalis Arinan. Santri Berprestasi dan Teladan tahun ini jatuh kepada Ananda Riri Mumammad Reyhan, dengan rata-rata nilai ujian 93 dengan predikat Mumtaz.
Acara ditutup dengan siraman rohani melalui mauidhoh hasanah oleh Dr. Khoirun Niat, Lc., M.A. Beliau memaparkan kisah perjalanan Nabi Musa a.s. saat diperintahkan Allah SWT untuk berguru kepada Nabi Khidir a.s. sebagaimana termaktub dalam Surah Al Kahfi. Beliau berpesan bahwa menuntut ilmu adalah hakikat kehidupan. Beliau mengibaratkan ilmu setara dengan nyawa. “Jika hidup ingin berarti, maka harus berlandaskan ilmu. Tanpa ilmu, hidup tidak akan berarti apa-apa.”

Acara pun beliau tutup dengan do’a. Segenap hadirin bermunajat agar seluruh ilmu yang telah diperoleh menjadi penuntun para santri dalam menebar manfaat bagi umat dan agama.
Penulis: Rizki Oktavian | Editor: Nuril
