
(Dokumentasi Panitia)
YKD – Malam minggu (31/01) kali ini sedikit berbeda. Bulan purnama yang tersamarkan mendung, mengiringi detik pergantian bulan pertama. Layaknya purnama, Pendopo Al-Khadijah malam itu pun sama. Terasa utuh dan cerah, meski diselimuti gelap malam. Seluruh santri Nurul Ummah Putri antusias, sebab malam itu menjadi penutup rangkaian acara Harlah Haflah dan Pekan Pustaka 2026.
Dikemas dalam bentuk talkshow interaktif, acara yang mengusung tema “Pentingkah Pendidikan Perempuan dan Literasi Digital di Era yang Serba Viral?” ini menghadirkan narasumber yang sangat inspiratif. Prof. Alimatul Qibtiyah, S.Ag., M.Si., MA., Ph.D. atau akrab disapa Prof. Alim membuat acara menjadi penuh pemahaman akan pentingnya peran perempuan dalam kehidupan.
Guru Besar Kajian Gender UIN Sunan Kalijaga sekaligus Komisioner Komnas Perempuan RI (2020-2025) ini juga menekankan bahwa baik laki-laki maupun perempuan sama-sama mendapatkan tugas sebagai ‘kholifah’ di muka bumi. Keduanya memiliki kewajiban untuk belajar, sehingga kehidupan perempuan tidak hanya berakhir di dapur, kasur, dan sumur.
Para santri menyimak acara dengan saksama sembari mencatat poin-poin penting yang mereka dapatkan. Pada pertengahan acara, Prof. Alim memberikan dua pertanyaan terkait video YouTube yang sebelumnya telah dibagikan oleh panitia. Santri yang mampu menjawab, masing-masing mendapatkan satu buku karya beliau. Meski beberapa kali sempat disapa hujan, para santri tetap mengikuti acara dengan tertib hingga selesai. Antusias para santri juga terlihat dari banyaknya santri yang mengangkat tangan pada sesi tanya jawab.
Prof. Alim dalam presentasinya juga menampilkan cuplikan video tentang kekerasan seksual verbal di dunia siber yang kerap dialami perempuan. Prof. Alim menegaskan pentingnya pendidikan bagi perempuan sebagai sarana pembebasan dari kemiskinan dan budaya patriarki. Melalui pendidikan, perempuan mampu menafsirkan teks agama secara kritis dan tidak terjebak pada tafsir tunggal yang bias gender. Dengan pendidikan yang setara, keluarga dapat melahirkan generasi yang lebih kritis.
Prof. Alim juga memaparkan problematika peran perempuan di ranah domestik, publik, dan ritual. Sejumlah aspek perempuan pun masih kerap diperdebatkan, mulai dari pemikiran dan otoritas, kebertubuhan, hingga peran, tanggung jawab, dan status.
Profesor yang belakangan juga diketahui sebagai salah satu penggagas ‘tepuk sakinah’ yang viral di media sosial ini juga menekankan pentingnya literasi digital sebagai perisai dan pedang. Literasi digital bukan sebatas soal teknis, tetapi juga menyangkut etika dalam ruang siber. Hal ini menjadi penting bagi perempuan dalam menghadapi tantangan di era viral saat ini. Tantangan tersebut meliputi fenomena Post-Truth, ketika informasi bergerak lebih cepat daripada kebenaran, ekonomi atensi yang mengeksploitasi standar kecantikan, serta berbagai risiko digital seperti cyberbullying dan penyebaran hoaks yang kerap menempatkan perempuan sebagai korban.
Dengan demikian, perlu adanya keadilan gender dalam ruang digital melalui strategi pendidikan kritis, memproduksi konten, dan networking. Di akhir penjelasan, Prof. Alim menyebutkan ciri-ciri model kepemimpinan yang adil, demokratis, tanpa diskriminasi, dan nir-kekerasan. Malam itu, para santri dibekali pandangan untuk menghadapi dunia digital yang masih sarat diskriminasi, termasuk dari sesama perempuan. Akhir kata, penulis teringat pesan dari seorang guru sebelum masuk dunia perkuliahan untuk senantiasa menjadi mawar yang berduri, bukan untuk menyakiti, tapi untuk menjaga diri.

Penulis: Putri Nabila | Editor: Nayla Sya
