
Ada satu momen di pondok yang selalu sukses bikin santri mendadak rajin: pengumuman pengurusan kartu imtihan.
Santri yang biasanya santai, tiba-tiba sibuk buka catatan, ngecek grup WA, mondar-mandir ke kantor, dan bertanya, “Eh, syahriahku sudah lunas belum, ya?” Padahal pengumumannya sudah keluar sejak entah kapan.
Imtihan, baik semester 1 maupun 2, memang bukan cuma soal belajar dan qirtub, tapi ia juga datang bersama paket lengkap: syarat administrasi, pembayaran, dan ujian mental yang menguji kesabaran, kesiapan, serta kebiasaan kita dalam menunda-nunda. Dan semester ini terasa berbeda buatku. Bukan karena syaratnya bertambah, tapi karena ini adalah semester terakhirku mengurus kartu imtihan. Sekaligus semester di mana aku sadar ternyata selama ini yang bikin ribet itu bukan imtihannya, tapi kebiasaanku sendiri.
Aku pernah di situ di posisimu.
Mengurus kartu imtihan dengan perasaan tertekan, membuka catatan sambil menghitung kekurangan, dan berharap semua bisa selesai tepat waktu. Tak jarang, ingatan dipaksa bekerja lebih keras: kapan terakhir kali membayar syahriah MD (madrasah diniyah) maupun pondok, tanggungan apa lagi yang belum diselesaikan, dan berapa jumlah yang masih harus dipenuhi. Aplikasi mobile banking dan kalkulator sering kali terbuka berdekatan, seolah ikut mengingatkan bahwa urusan yang ditunda selalu menagih perhatian di saat yang paling melelahkan. Bedanya, semester ini terasa berbeda. Ini adalah semester terakhirku mengurus kartu imtihan. Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya, proses itu terasa jauh lebih ringan. Bukan karena syaratnya berkurang. Bukan pula karena aku tiba-tiba menjadi orang yang mapan secara finansial (tapi ya Aamiinkan saja semoga mapan secara finansial). Tapi karena cara pandangku terhadap tanggung jawab sudah berubah.
Selama ini, kartu imtihan sering dianggap sebagai sesuatu yang rumit. Banyak santri—termasuk aku di masa lalu—merasa bahwa prosesnya menguras tenaga, pikiran, dan dompet. Padahal jika ditelaah lebih jauh, keribetan itu sering kali bukan berasal dari sistem—ya walaupun kadang sistem juga menyebalkan, sih, mepet waktu ketika share takziran misalnya, eh—melainkan dari kebiasaan menunda hal kecil.
Syahriah MD yang seharusnya dibayar rutin tiap bulan sering kali ditunda dengan alasan sederhana: “Nanti sekalian aja ah.” Syahriah pondok dan uang makan yang justru nominalnya lebih besar perlahan menumpuk tanpa benar-benar disadari. Sementara itu, tanggungan keamanan kerap dihindari, padahal sering kali ia membesar bukan karena nominalnya, melainkan karena kelalaian kita sendiri dalam menaati peraturan.
Semua itu lalu bertemu di satu waktu: menjelang imtihan. Di saat energi sudah terkuras oleh belajar dan aktivitas pondok, pikiran justru dibebani urusan administrasi yang seharusnya bisa selesai sejak lama. Akhirnya, kartu imtihan tidak lagi terasa seperti syarat ujian, melainkan seperti ujian itu sendiri.
Di semester terakhir ini, aku mengurus kartu imtihan dengan perasaan yang jauh lebih baik. Tidak ada kepanikan—kecuali takziran nadzom dari kesiswaan—tidak ada bolak-balik dengan wajah menyesal saat melihat nominal di m-banking berkurang, dan tidak ada drama antre panjang di bagian pembayaran. Karena ketika semua sudah lunas, aku hanya perlu menunjukkan bukti, meminta tanda tangan, dan melangkah pulang dengan perasaan lebih tenang.
Aku baru sadar, ketenangan itu muncul karena satu hal sederhana: aku lebih tertib sejak awal.
Syahriah MD dibayar rutin tiap bulan. Syahriah pondok dan makan tidak ditunda. Jika ada tanggungan keamanan dan belum bisa langsung diselesaikan, aku memilih untuk berkomunikasi dan meminta takziran lebih dulu. Ternyata, keberanian untuk menghadapi urusan lebih awal jauh lebih menenangkan daripada terus menghindarinya.

Dari pengalaman ini, aku belajar bahwa kartu imtihan bukan sekadar kartu. Ia adalah cermin kebiasaan kita sebagai santri. Ia menunjukkan bagaimana kita mengelola tanggung jawab, mengatur keuangan, dan bersikap jujur pada diri sendiri.
Buat mbak-mbak santri yang mungkin masih merasa pengurusan kartu imtihan itu horor, ada beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan agar prosesnya tidak lagi terasa berat:
- Pertama, biasakan membayar syahriah MD secara rutin tiap bulan. Jangan menunggu hingga menjelang imtihan. Sedikit tapi konsisten jauh lebih ringan daripada besar tapi mendadak.
- Kedua, jangan menunda syahriah pondok dan uang makan. Terutama uang makan yang nominalnya tidak kecil, sebab penundaan kecil yang dibiarkan berulang justru sering berubah menjadi penghambat besar ketika menumpuk di akhir.
- Ketiga, hadapi tanggungan keamanan dengan komunikasi. Jika memang belum bisa langsung lunas, meminta takziran bukanlah aib. Yang penting ada tanggung jawab dan niat menyelesaikan.
- Keempat, catat semua kewajiban. Jangan hanya mengandalkan ingatan, karena capek dan lupa adalah hal yang manusiawi di pondok.
Dan yang paling penting, jangan menggantungkan semuanya pada kata “nanti”. Karena di pondok, “nanti” sering berubah menjadi “sudah terlambat”.
Mengurus kartu imtihan di semester terakhir ini memberiku satu kesadaran penting: hidup santri sebenarnya tidak seribet yang kita bayangkan. Banyak hal menjadi berat karena kita memilih menundanya, bukan karena kita tidak mampu menjalaninya.
Kartu imtihan mengajarkan lebih dari sekadar syarat mengikuti ujian. Ia mengajarkan tentang disiplin, kesiapan, dan keberanian menyelesaikan tanggung jawab tepat waktu. Dan mungkin, pelajaran inilah yang paling berharga dari imtihan terakhirku. Bahwa ketenangan sering kali lahir bukan dari keadaan yang sempurna, tapi dari kebiasaan kecil yang dilakukan dengan konsisten.
Karena kalau bisa dipersiapkan pelan-pelan, kenapa harus panik rame-rame di akhir?
Penulis: Deri | Editor: Nayla Sya
