Malam Tirakatan Kemerdekaan ke-80, Santri Diingatkan Soal Kemerdekaan Hakiki

(Abah K.H. Munir Syafa’at Memimpin Doa pada Malam Tirakatan)

Nupipress – Santri Pondok Pesantren Nurul Ummah Putri bersama santri Pondok Pesantren Kotagede Hidayatul Mubtadi-ien menggelar malam tirakatan dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia ke-80. Acara yang berlangsung di Pendopo Al Khadijah pada Sabtu malam (16/8) tersebut diisi dengan berbagai rangkaian kegiatan, mulai dari pembukaan, pembacaan tahlil dan doa, mau‘idzoh hasanah, hingga penutup.

Pembukaan acara diawali dengan pembacaan sholawat oleh grup hadrah Sabilus Syafaat yang menambah kekhidmatan suasana. Sebelum tahlil dimulai, Pengasuh Pesantren, K.H. Munir Syafa‘at, menyampaikan pesan bahwa wasilah doa dan tahlil ini dihadiahkan untuk para syuhada pejuang kemerdekaan. Selain itu, pada malam yang sama juga diperingati haul ke-14 K.H. Imam Yahya Mahrus Lirboyo. “Jadi, selain doa kita hadiahkan kepada para syuhada kemerdekaan juga khusus kita kirimkan untuk K.H. Imam Yahya Mahrus,” ungkap Abah Munir.

Dalam mau‘idzoh hasanah-nya, K.H. Munir Syafa‘at menyinggung tentang makna kemerdekaan yang sejati. Beliau mempertanyakan apakah Indonesia saat ini sudah sepenuhnya merdeka. Menurutnya, sebuah negara dikatakan benar-benar berdaulat apabila memiliki tiga pilar kemandirian, yaitu kemandirian pendidikan, ekonomi, dan politik.

“Maka tugas kalian di sini, di samping mengaji, juga mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi, supaya nantinya negara kita betul-betul merdeka dengan sepenuhnya.

يَدِ الشُّبَّانِ اَمْرَ اْلأُمَّةْ وَفِى أَقْدَامِهَا حَيَاتُهَا

segala urusan umat dan bangsa ada di tangan pemuda, dan kehidupan bangsa berada di telapak kakinya.

Sesungguhnya urusan umat ini, urusan negara ini, kemerdekaan negara ini, sepenuhnya ada pada pundak kalian, sepenuhnya ada pada tangan-tangan kalian, sepenuhnya ada pada tunas-tunas bangsa yang meneruskan.”

Acara tirakatan ini mendapat kesan mendalam dari para santri, termasuk santri baru, Zahra (18), mahasiswa UNY yang baru beberapa minggu tinggal di pondok.

“Senang, dan ini menjadi hal baru. Banyak sekali yang bisa diambil dari mau‘idzoh Abah. Tadinya saya kira tirakatan itu ya zikir, puasa, atau hal-hal yang berhubungan dengan menahan diri, seperti tirakat pada umumnya.”

Melalui kegiatan ini, santri diharapkan mampu mengambil pelajaran dari sejarah perjuangan para syuhada sekaligus meneguhkan tekad untuk melanjutkan cita-cita kemerdekaan dengan berperan aktif di bidang pendidikan, ekonomi, dan politik.

Reporter : Putri | Editor : Nayla Sya