Haru-Haru Dahulu, Seru-Seru Kemudian: Menengok Peringatan Harlah Pondok Pesantren Nurul Ummah Putri Tercinta

(Dokumentasi Panitia)

YKD – Rangkaian Harlah, Haflah, dan Pekan Pustaka Nurul Ummah Putri dibuka dengan malam penuh makna bersama Ibu Nyai dalam acara One Night with Ibu. Acara ini sangat memberikan kesan mengharukan bagi para santri saat ibu diberikan panggung untuk bercerita mengenai perjuangannya di masa lalu hingga terwujudnya Pondok Pesantren Nurul Ummah Putri di masa kini. Setelah acara yang mengharukan itu, kemudian dilanjutkan dengan kegembiraan dan keseruan perlombaan yang dilaksanakan di lantai 2 Masjid Al-Faruq pada 28-30 Januari 2026. Setiap kegiatan yang ada tidak hanya sekadar meriah, tetapi juga meninggalkan kesan di hati para santri sebab sentuhan cemerlang dari panitia pelaksana.

Pada Rabu (28/1), tiga komplek ditantang menunjukkan kreativitas mereka dalam lomba History of Komplek. Dipandu oleh Fatimah Sufiya dan Indah Fatkhul sebagai master of ceremony, tiap komplek menampilkan drama dengan ciri khas masing-masing. Ibu Nur Baety dan Ibu Nunung Khasanah turut membersamai sebagai juri.

Komplek Nurussalam bercerita tentang ‘zombie-zombie’ yang ternyata merupakan panggilan sayang antar anggota komplek. Sementara itu, komplek Hafshah menghebohkan peserta dengan kemunculan sepeda yang melaju di antara penonton. Berbeda dengan komplek Aisyah, drama yang mereka tampilkan merupakan potret keseharian pondok yang sederhana, dekat, dan penuh cerita. Riuh tawa dan tepuk tangan silih berganti, memenuhi ruangan dengan semangat kebersamaan.

History of Komplek Nurussalam

Kamis (29/1), delapan perwakilan dari tiap marhalah (tingkatan) MDNU-Pi dan MDKD berjajar rapi dengan kostum senada. Standing mic terpasang di tengah ruangan untuk menunjang kegiatan lomba yang berjudul Arisan, mengadopsi gameshow terkenal di televisi.

Pada babak pertama, peserta bergantian menjawab pertanyaan bertema ‘suka-suka panitia’. Tak sedikit yang di luar nalar, sebagian menguji ingatan, sementara yang lain justru mengundang tawa. Kertas hijau dan merah dibagikan pada babak kedua. Hijau berarti A, merah berarti B. Setiap kelompok menjawab soal pilihan ganda dengan mengangkat kertas masing-masing, menguji chemistry sekaligus menantang kejujuran.

Babak Pertama
Babak Kedua

Lomba kemudian ditutup dengan babak ketiga yang melibatkan satu perwakilan dari tiap kelompok. Pertanyaan-pertanyaan HOTS dilempar oleh Dilla Azkiya dan Indi Rida. Semuanya harus ditangkap dan dijawab cermat, menggunakan papan tulis dan spidol sebagai senjata.

Babak Ketiga
Pencatat Poin

Jum’at (30/1), saatnya tiap daerah unjuk diri dalam Dance dan Nyanyi Santri Nusantara (Dansanya Nusantara). Ibu Vera dan Ibu Milna hadir sebagai juri, sementara Nadliratuyasmin dan Atiqotuz memandu jalannya acara. Setiap daerah tampil dengan membawa warna budaya masing-masing.
Santri Jawa Timur mengisahkan legenda Joko Tingkir dan Sri Tanjung, diiringi tarian dan lantunan suara merdu. Santri luar Pulau Jawa tampil penuh semangat dengan mengajak penonton bernyanyi bersama. Perpaduan budaya Jawa Tengah dan Jawa Barat disajikan dengan apik, sebelum santri warga lokal DIY menutup penampilan daerah dengan nyinden dan tarian khas yang hangat, meriah, dan terasa sangat “kita”.

Dansanya Nusantara

Sebagai penutup, kelas 3 Marhalah 3 mempersembahkan drama kenang-kenangan terakhir. Mereka mengisahkan tentang seorang santri yang ditinggal menikah, lalu memutuskan menjadi lurah. Tawa beberapa kali pecah, meski rasa haru juga tak terelakkan. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemutaran video rekap dan pembagian hadiah lomba.

Cuplikan Adegan Penampilan 3M3
Cuplikan Adegan Penampilan 3M3

Pembagian hadiah lomba diawali dengan pengumuman Miss Perpustakaan An-Nabil 2026 yang diraih oleh Aniqa Ashfa Karima, santri dari komplek Nurussalam. Kemudian kamar Aisyah 14 dipanggil sebagai juara mading tentang Hari Ibu. Juara pada lomba arisan dimenangkan oleh tingkat marhalah 2 (MDNU-Pi) sebagai juara 1, tingkat marhalah 3 (MDNU-Pi) sebagai juara 2, dan tingkat ulya (MDKD) sebagai juara 3. Kemudian pada lomba History of Komplek tidak menggunakan apresiasi berupa juara namun berupa kategori. Komplek Nurussalam mendapatkan kategori komplek ter-comel, komplek Hafsoh sebagai komplek ter-enjoy dan komplek Aisyah sebagai komplek ter-seru.
Acara Dance dan Nyanyi Santri Nusantara (Dansanya Nusantara) juga menggunakan bentuk apresiasi berupa kategori. Daerah Jawa Timur mendapatkan kategori ter-effort, daerah DIY mendapat kategori terheboh, daerah Luar Jawa mendapatkan kategori ter-kreatif, dan daerah Jawa Tengah dan Jawa Barat sebagai daerah dengan kategori ter-the best.

Miss Perpustakaan

Tinggalkan Balasan