Benda Juga Punya Perasaan

Sumber: Pinterest

Kala itu, ponselku lolos dari tas bagian saku. Yang jadi masalah bukan cuma jatuhnya, tapi juga hilangnya. Aku baru sadar bahwa si biru–nama ponselku– raib setelah sudah sampai kamar asrama dari perjalanan Taman Siswa–Kotagede. Mengurangi rasa panik, kutunaikan sholat ashar terlebih dahulu. Memang, keadaan belum sembahyang adalah salah satu hal yang membuatku tergesa-gesa pulang dari acara di Taman siswa kala itu.

Sungkan meminta tolong, awalnya aku nekat berangkat sendiri menyusuri jalan yang kulewati tadi. Tak jadi, untunglah ada Devi yang bersedia menemani. Membawa teman membuatku bisa tetap fokus berkendara tanpa kehilangan momen menengok kanan-kiri. Pertama, kami mendatangi Pendopo Taman Siswa yang ternyata sedang dipakai untuk entahlah apa. 

“Itu mereka ngapain kok duduk diam-diam aja? Meditasi?” tanyaku pelan takut mengganggu. 

“Itu yoga, tahu,” jawab Devi memperhatikan gerakan yang dilakukan orang-orang tersebut.

Setelah tahu bahwa panitia acara yang aku ikuti tadi sudah kukut, kami mendekati seorang bapak yang sedang menyirami tanaman. 

“Maaf, Pak, izin tanya. Bapak ada melihat ponsel terjatuh atau tertinggal di sini ndak, ya?” Bapak itu menggeleng, tanda tak tahu. Kami pun mengucapkan terima kasih dan mulai mencari di jalanan.

Usaha kami belum membuahkan hasil meski hari sudah semakin sore. Aku menguatkan diri lantas mengabari dan meminta maaf ke Abah-Bunda melalui WhatsApp yang masih terhubung di laptop. 

“Memang sudah umurnya. Biasanya ada pengumuman di Facebook kalau masih rezeki. Pakai saja dulu ponsel lama Abah,” jawab Abahku di salah satu bubble chat-nya. Oke, bila orang tua sudah dawuh legawa seperti ini, hati pun bisa lebih lepas dalam menerima.

Ponsel lama Abah meski masih bisa berfungsi, beberapa sistemnya sudah tidak baik-baik saja. GPS tidak berjalan sehingga aplikasi Simaster gagal memindai QR presensi di kelas saat aku berkuliah. Sedih, mau lembiru (lempar beli baru) pun belum punya dana yang memadai. Bersyukur, aku memiliki teman baik yang mau meminjamkan ponselnya agar bisa login Simaster dan mengisi presensi. Namun, bukankah akan sungkan dan merepotkan bila meminjam ponselnya setiap hari?

Allah sebaik-baiknya perencana. Ketika diri sedang dipenuhi nestapa bak kehilangan sosok tersayang, dua malam kemudian, Bunda mengabari bahwa ponselku telah ditemukan. Ceritanya, beliau iseng-iseng mengecek grup Facebook Info Cegatan Jogja. Kebetulan sekali, ada foto ponsel ditemukan baru-baru itu. Setelah mengonfirmasi bahwa itu benar milikku, terjadilah komunikasi dengan orang baik yang menyelamatkannya.  Aku dan Abah kemudian membuat janji untuk bertemu.

Kehilangan ponsel tapi menemukannya kembali membuatku percaya akan adanya ikatan antara manusia dengan barang yang ia punya. Jika kita masih diberikan kesempatan untuk bersama, ia akan kembali kepada kita. Posisi ini harus dijalani dengan ikhlas, atas dasar percaya bahwa apa yang masih takdir kita, ya akan jadi milik kita. Juga harus disertai ikhtiar terlebih dahulu, ketika sudah mentok, muncul-lah dia. 

Di cerita lain, aku sudah berganti ponsel. Ponselku masih berwarna biru, dan untuk kedua kalinya, aku kehilangan ponsel biru. Jika kehilangan yang lalu membuatku kapok menaruh di saku depan ransel, kali ini di saku pakaian. 

Sumber: Dokumentasi pribadi

Sebenarnya, aku jarang menaruh ponsel di tempat rawan itu, apalagi jika sedang memakai korsa yang sakunya kurang dalam. Tapi memang sedang aneh, ponsel yang kuisi daya dengan laptop dalam ransel yang kugendong malah kumasukkan saku. Lagi-lagi, kala itu aku sedang terburu-buru. Sampai parkiran asrama, kabel charger sudah menggantung, terlepas dari ponselku yang entah pergi ke mana. Panik parah. Lantas mengecek keberadaannya menggunakan Find My Phone di laptop. Merujuk ke suatu tempat, bukan tempat yang kulewati tadi–berarti sudah diambil orang. Payahnya, baterai ponsel itu tinggal 5%, alamat akan mati sebentar lagi. Mengajak temanku, aku menuju ke titik ponsel berada. Kami kebingungan ketika sampai di lokasi yang tidak presisi. Diikuti bocah-bocah yang sedang bermain pula. Digelendoti. Lantas kucoba mengetuk pintu sebuah rumah hasil tebakan posisi. “Di rumah ini nggak ada yang habis pergi, Mbak.” Duhai.

Akhirnya, kami kembali ke asrama. Hari semakin gelap dan ketika dipantau, ponselku sudah kehabisan daya. Yang sempat bikin dilema, ayahku malah bilang untuk membiarkan saja dan tidak usah lapor. Ketika minta izin untuk mencantumkan nomor beliau di pengumuman yang kubuat, katanya, “Bisa-bisa malah memancing penipuan.” Iya juga, sih, tapi masa tidak effort dulu? Karena aku keukeuh dengan alasan hanya akan disebarkan oleh teman-temanku, ayahku pun mengiyakan. Beberapa teman mulai memposting.

Setelah sekian usahaku untuk bertemu kembali dengan si biru, mungkin ia pun luluh. Aku mendapat kabar dari ayahku bahwa beliau berhasil berkomunikasi dengan orang yang memegang ponselku. Sebelumnya, ketika kupantau, ponsel itu memang telah terisi daya. Usut punya usut, si penemu inilah yang mengisinya, memindah sim card ke ponsel lain, lantas mengirim pesan melalui WhatsApp dengan nomor itu. Didapatlah informasi ke mana kami bisa menemui kembali si biru, tak jauh dari lokasi yang ditunjukkan oleh Find My Device. 

Beruntungnya aku dikelilingi oleh orang-orang baik, seorang teman berinisiatif menemaniku menuju penemu si biru. Tiba di sana, diceritakanlah bahwa ponsel itu sempat diperebutkan oleh pengendara lain. Memang masih rezeki, sang penemu tidak lantas menyerahkan, tetapi membawa pulang dan menunggu kabar datang dari pemiliknya. 

Mereka–si biru dan mungkin barang-barang lain yang sempat hilang–seperti menemukan jalannya sendiri. Seakan-akan mereka jalan pulang, lalu kembali kepada sesiapa yang memang tulus memilikinya, atas kehendak-Nya.

Penulis: Nayla Sya | Editor: Deri

Tinggalkan Balasan