
Sumber: Panitia Harlah PPKHM ke-16
Santri perlu mengenal sejarah pesantrennya, bukan sekadar untuk mengetahui perjalanan masa lalu, tetapi juga menyelami hikmah dan manfaat dari proses yang telah dilalui para pendahulu. Semangat inilah yang mengemuka dalam sarasehan peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-16 Pondok Pesantren Kotagede Hidayatul Mubtadi-ien (PPKHM), Sabtu (3/10). Melalui pertemuan bersama pengasuh, para santri diajak menyelami kembali perjalanan panjang pesantren, mulai dari latar belakang pendirian, hingga nilai-nilai yang menjadi fondasi keberlangsungannya.
Ruang Dialog Pertama Antara Pengasuh dan Santri
Kegiatan sarasehan menjadi salah satu rangkaian yang berbeda dalam peringatan Harlah tahun ini. Untuk pertama kalinya, forum tersebut diselenggarakan sebagai ruang dialog antara pengasuh dan santri. Acara diawali dengan muqoddaman Al-Qur’an oleh para santri Pondok Pesantren Kotagede Hidayatul Mubtadi-ien dan Pondok Pesantren Nurul Ummah Putri, kemudian ditutup dengan doa oleh Ibu Nyai. Suasana khidmat mengiringi pembukaan acara sebelum kegiatan berlanjut pada sesi sarasehan yang dipandu oleh Nefzawi Yushki, S.H.
Apresiasi terhadap penyelenggaraan sarasehan disampaikan oleh moderator sebelum diskusi dimulai. Ia mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut merupakan pengalaman baru dalam rangkaian peringatan Harlah PPKHM.
“Tak lupa di sini sebenarnya aku pengin jujur aja, untuk acara sarasehan ini baru pertama kali diadakan di Pondok Pesantren Kotagede Hidayatul Mubtadi-ien. Tentunya tepuk tangan buat panitia Harlah ke-16 PPKHM,” ucap Yuskhi.
Pengasuh PPKHM, Abah K.H. Munir Syafa’at, turut berharap agar kegiatan tersebut dapat terus diselenggarakan dan dikembangkan pada masa mendatang. “Mudah-mudahan nanti disusul pada acara-acara sarasehan berikutnya dengan lebih baik dan lebih bagus lagi, lebih manfaat dan lebih berkah lagi,” tuturnya.
“Karena kita harus tahu sejarah berdirinya pondok pesantren kita ini. Hingga nanti harapannya bisa diambil sebuah hikmah dan manfaat dari proses berdirinya pondok pesantren sampai berusia yang ke-16,” tambahnya.
Khidmah Sebagai Kunci Keberhasilan Santri
Jika sejarah pendirian pesantren memperlihatkan perjuangan para pendahulu, sesi berikutnya membawa para santri pada pertanyaan tentang bagaimana meneruskan perjuangan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pertanyaan yang disampaikan oleh Kang Yuskhi ialah mengenai kiat menjadi pribadi yang berhasil, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat.
Menanggapi pertanyaan itu, Abah menempatkan khidmah atau pengabdian sebagai salah satu kunci penting dalam perjalanan seorang santri. Ia mengisahkan pengalamannya selama mondok di Lirboyo, ketika berbagai tugas dijalani tanpa memilih pekerjaan berdasarkan mudah atau sulitnya tugas tersebut. Mulai dari menjaga keamanan, membersihkan lingkungan, hingga membantu pekerjaan sehari-hari di pesantren, semuanya menjadi bagian dari proses belajar.
Abah menegaskan, “Dan jangan lupa yang terpenting khidmah. Mbuh sampeyan dikongkon opo wae, khidmah mbuh nang ndalem utawa nang pondok, madrasah, SMP, SMA, iki kudu dilakoni (Entah kalian disuruh apa saja, khidmah baik di ndalem, pondok, madrasah, SMP, maupun SMA, ini harus dijalani).”
Pengalaman serupa turut disampaikan Ibu Nyai Barokah Nawawi. Ia menceritakan masa ketika dirinya membantu keluarga dan melayani kebutuhan para santri selama berada di lingkungan pesantren. Berbagai pekerjaan dijalani, termasuk memasak, membantu pengelolaan kebutuhan sehari-hari, hingga mengajar anak-anak di lingkungan sekitar. Kisah tersebut menunjukkan bahwa khidmah dapat hadir dalam bentuk yang sederhana, tetapi tetap memiliki arti besar bagi kehidupan bersama.
Mengaji Sebagai Makanan Jiwa dan Ruh
Pembahasan sarasehan kemudian berlanjut pada pertanyaan yang dekat dengan keseharian santri. Disampaikan oleh Mbak Firoh, pertanyaan tersebut mengulik cara menumbuhkan kesadaran bahwa mengaji merupakan sebuah kebutuhan.
Abah menjelaskan bahwa setiap hal memiliki hak yang perlu dipenuhi. Jika tubuh membutuhkan makanan dan minuman agar tetap hidup, jiwa dan ruh juga membutuhkan asupan yang sesuai, yaitu ilmu yang bermanfaat.
“Demikian juga di dalam tubuh ada roh, ada jiwa. Ini makanannya berbeda dengan makanan raga. Makanan jiwa dan roh itu adalah ‘ilmun nafi’un, ilmu yang bermanfaat,” jelasnya.
Menurut Abah, kesadaran tersebut tidak selalu muncul dengan sendirinya. Seseorang perlu membiasakan dan memaksa diri menjalankan kebaikan, termasuk mengaji, mengikuti diniyah, dan beribadah secara konsisten. Pada awalnya, kebiasaan itu mungkin terasa berat sehingga membutuhkan kedisiplinan untuk terus menjalaninya. Namun, ketika dilakukan secara berkelanjutan, kegiatan tersebut diharapkan tumbuh menjadi kebutuhan yang dirasakan manfaatnya oleh diri sendiri. Terpaksa, bisa, lalu terbiasa. Mungkin begitulah kiranya.
Merawat Tradisi, Membangun Prestasi
Menjelang akhir sarasehan, Abah kembali mengingatkan agar peringatan Harlah tidak berhenti pada slogan. Semangat merawat tradisi perlu diwujudkan dalam perilaku nyata, mulai dari kesungguhan mengikuti kegiatan pesantren, menjaga kedisiplinan, hingga mengembangkan kemampuan dan prestasi.
Pesan itu dirangkum dalam semangat Harlah ke-16. “Merawat tradisi, membangun prestasi dan kreasi.” Tradisi pesantren, dalam pandangan tersebut, bukan sesuatu yang hanya dikenang atau diulang tanpa pemahaman. Tradisi perlu dijaga melalui pengamalan nilai-nilainya sekaligus dikembangkan agar tetap relevan dalam kehidupan santri.
(Bagi pembaca yang ingin mengetahui kisah dan rekam jejak berdirinya PPKHM secara komprehensif, selengkapnya dapat dibaca pada artikel: [Sejarah Panjang Berdirinya PPKHM Kotagede]).
