Ramadan Fil Ma’had: Berpamitan di Bawah Langit Hujan

Sumber: Dokumentasi Panitia RFM

YKD –  Air mengguyur Kotagede malam itu, tak terkecuali, area Pondok Pesantren Nurul Ummah Putri. Sabtu (7/3), rangkaian kegiatan Ramadhan Fil Ma’had (RFM) yang diikuti oleh santri Pondok Pesantren Nurul Ummah Putri dan Pondok Pesantren Kotagede Hidayatul Mubtadi-ien resmi ditutup. Sore hingga malam yang penuh berkah, seperti dawuh Abah, “hujan itu rahmat dan kita tak pantas merajuk karenanya.”

Alhamdulillah, pada Ramadhan 1447 H ini, Abah dapat kembali membersamai kegiatan mengaji secara langsung. Kitab-kitab yang tidak dikaji tahun lalu, kembali dibuka dan ditepis debu-debunya. Ada Ihya’ Ulumuddin jilid 3, Tanwirul Qulub, serta Dalail al-Khairat yang setia menemani RFM tiap masa. Bahkan, Ramadhan kali ini bertambah spesial dengan khatamnya kitab Tanwirul Qulub yang sudah dikaji sejak 2014.

Adapun pondok putra telah mengkhatamkan kitab Kifayatul Awwam. Sementara di pondok putri, telah khatam pula kitab Tanqihul Qoul yang dikaji selama 3 kali Ramadhan, juga kitab Burdah yang dikaji sejak Ramadhan lalu. Hal ini menjadi pemicu semangat untuk terus menimba ilmu. 

Kembali ke Pendopo Al-Khadijah serta halaman SMA Islam Darussalam yang syahdu sore itu. Kegiatan diawali dengan muqoddaman yang dibuka oleh Abah dan ditutup dengan pembacaan doa khotmil Qur’an oleh Ibu. Usai lafaz ‘aamiin’ terlantunkan, Abah mulai menyampaikan tata cara mengamalkan Dalail al-Khairat untuk tiap harinya. Dilanjut dengan pemberian ijazah amalan tersebut, yang diterima oleh para santri baik pelajar maupun mahasiswa.

Sumber: Dokumentasi Panitia RFM

Sebagai bentuk rasa syukur, pemotongan tumpeng dilakukan bersama oleh Abah dan Ibu. Bersamaan dengan itu, takjil spesial mulai dibagikan. Tepat ketika azan magrib berkumandang, para santri mulai berbuka puasa, membentuk barisan-barisan, sambil sesekali berbincang bersama rekan.

Sumber: Dokumentasi Panitia RFM

Setelah makanan dan minuman tandas, Agus Minanullah kemudian menjadi imam sholat magrib yang dilanjutkan dengan wirid dan doa. Santri putra diperbolehkan kembali ke pondok setelah itu, sementara santri putri tetap di tempat untuk menunggu Ibu menyampaikan pesan sebelum perpulangan yang dimulai esok hari.

Sumber: Dokumentasi Panitia RFM

Ibu banyak berpesan, diantaranya sama seperti yang telah Abah sampaikan di sela-sela rangkaian kegiatan tadi. Beliau menitipkan salam kepada orang tua serta keluarga di rumah. Para santri juga diingatkan untuk kembali ke pondok tepat waktu. Ketika di rumah, para santri harus menunjukkan perangai santri yang berilmu, beradab, serta berakhlakul-karimah. 

“Tunjukkan bahwa doa dan ikhtiar yang dikerahkan orang tua selama putra-putrinya mondok, tidak terbuang sia-sia,” dawuh Ibu.

Meskipun berada di rumah, ibadah dan amaliyah yang biasa dilakukan di pondok juga harus tetap dilaksanakan. Hal-hal yang ada di pondok bisa disyiarkan di kampung halaman masing-masing, hingga kembali lagi dengan niat dan semangat baru.

Ibu juga menyampaikan kabar baik bahwa akan adanya program baru bagi santri takhasus yang ingin fokus untuk menghafal Al-Qur’an. Program tersebut digadang-gadang akan menargatkan khatam hafalan Al-Qur’an dalam waktu 2 tahun. Kabar ini bagaikan angin segar beraroma qurani, semoga program tersebut dapat semakin berkembang nantinya.

Sumber: Dokumentasi Panitia RFM

Usai ramah tamah itu, terdapat apresiasi yang diberikan kepada beberapa santri atas semangatnya dalam mengaji dan menuntut ilmu. Mereka adalah Neliyatul Agustina yang sudah 3x khatam Al-Qur’an, Maulida Rahma 2x khatam Al-Qur’an, serta Eva Nur sebagai santri yang paling rajin kajian. Acara kemudian ditutup dengan mushofahah, barisan santri yang mengular dengan mukena serta baju muslimah saling memaafkan, berharap kembali bersih hatinya selagi berada di bulan Ramadhan.

Penulis: Nayla Sya | Editor: Nuril

Tinggalkan Balasan