
Susana LPJ Tengah Tahun Kompleks Hafshoh
“Hafshoh bukan sekadar tempat tinggal, melainkan juga ruang bertumbuh. Di sini jamaah, kitab, dan kebersamaan dirawat, meski penuh tantangan dan dinamika.”
Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Komplek Hafshoh kali ini bukan hanya catatan administratif, melainkan juga sebuah cermin yang memantulkan wajah kebersamaan, capaian, dan dinamika perjalanan setengah tahun terakhir. Dari pengurus hingga santri, setiap suara menyumbang mozaik tentang bagaimana Hafshoh meneguhkan identitasnya sebagai kompleks yang berorientasi pada jamaah dan kitab.
Bagi Ilma, Ketua Kompleks Hafshoh, capaian penting tahun ini terlihat dari meningkatnya jamaah, kajian, dan semangat belajar santri. Sorogan berjalan dengan baik, dan program baru bernama takror memberi warna segar. Walau masih sederhana, takror menjadi langkah awal untuk menghidupkan nuansa kitab, bahkan menyimpan harapan agar kelak santri bisa melangkah lebih jauh—misalnya dengan muhafadzoh atau hafalan nadzom kitab turats. Ilma mengakui, tidak semua bisa terlaksana sempurna karena kegiatan santri dan pengurus begitu padat. Namun ia yakin, jika kepengurusan mendatang mampu menopang takror secara konsisten, ruh kitab di Kompleks Hafshoh akan semakin hidup.
Tantangan terbesar bagi pengurus, menurutnya, ada pada kesibukan pribadi di luar kepengurusan dan perbedaan sudut pandang antaranggota. Namun ia percaya, komunikasi terbuka dan sikap saling membantu sesama menjadi kunci. “Kalau sudah rajin, ya rajin banget, kalau sudah males, ya males banget, dan itu barengan gitu— iya mereka kalau sudah kompak, kompaknya kebangetan,” ujarnya menggambarkan wajah Hafshoh saat ini. Nilai yang ia ingin wariskan jelas: jamaah, takror, dan kajian. Sebab, sebagaimana dawuh Abah, kualitas shalat jamaah adalah barometer kehidupan pondok.
Nada yang sama disuarakan Ina, salah satu pengurus divisi. Ia menilai program seperti piket nasional, takror, dan pendataan santri yang mendapat takzir sebagai bentuk tanggung jawab yang berhasil dijalankan. Meski begitu, ia jujur menyebut jamaah masih menjadi PR besar bagi seluruh santri. “Pengurus itu memang seharusnya menjadi tombak awal, harus memberi uswah. Kalau pengurus bergerak, ya santri akan ikut,” katanya. Menurut Ina, pengurus Hafshoh perlu saling peka, saling mengingatkan, dan terus berusaha menjadi teladan agar ruh program tetap hidup.
Bagi salah satu santri seperti Afida, takror membawa perubahan besar. Halaqah pengulangan kitab (takror) tidak hanya menambah pemahaman, tetapi juga membentuk kultur belajar yang lebih serius. Ia bahkan mengusulkan agar program ini diarahkan pada target lebih jelas, seperti menghafal nadzom Alfiyah atau Imrithi, sehingga ada output konkret dari pembelajaran. Ia mengakui Hafshoh sudah makin baik dalam hal kedisiplinan, tetapi tetap mengingatkan: kesibukan di luar pondok jangan sampai membuat santri lalai dengan kewajiban utama—jamaah dan ngaji. “LPJ itu refleksi,” ucapnya, “supaya kita tidak kehilangan ruh utama mondok.”
Perbandingan dengan masa lalu juga terasa. Jika dulu sorogan Qur’an menjadi kegiatan pokok, kini takror hadir sebagai pendukung utama untuk memperdalam kitab turats. Dari pengalamannya, hidup di Hafshoh berbeda dengan kompleks lain: nuansa kitab membuat pertemanan lebih hangat, santri lebih care satu sama lain, sekaligus sadar akan batasan fiqh. “Teman-teman di sini benar-benar bisa saling mengingatkan. Ya walau memang suka guyonan, kita itu harus mengerti batasan dan hukum keilmuan atau fiqh-nya seperti apa jika ditanya persoalan tertentu. Itu menjadi keunggulan yang membedakan kita dengan yang lain,” tuturnya.
Namun berbeda dengan santri lainnya, Zulfa, yang memberi sudut pandang segar. Ia sempat merasa kegiatan di Hafshoh terlalu longgar, bahkan mirip kos-kosan karena santri kurang aktif. Seharusnya, kebiasaan seperti ini tidak dilestarikan dan bisa menjadi lebih baik lagi. Walau banyak anak-anak di Kompleks hafshoh yang aktif di luar pondok, mereka juga harus aktif kegiatan ketika di pondok. Baginya, takror menjadi wadah penting untuk muthola’ah sebelum diniah. Ia berharap, ke depannya santri bisa lebih disiplin dalam jamaah, datang tepat waktu di kajian, dan kembali menegaskan takhasus kitab sebagai fokus utama Hafshoh.
Setengah tahun perjalanan ini pada akhirnya menampilkan wajah Hafshoh yang penuh warna: ada capaian membanggakan, ada juga celah yang menuntut perbaikan. Dalam dinamika itulah ruh kebersamaan tumbuh. LPJ hadir sebagai cermin yang jujur, memantulkan komitmen bersama, sekaligus mengingatkan bahwa hidup di pondok bukan sekadar rutinitas, melainkan sebuah ikhtiar merawat jamaah, menghidupkan kajian, dan meneguhkan jalan ilmu.
“المؤمن مرآة المؤمن”
Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya.
Semoga Kompleks Hafshoh senantiasa hidup dengan semangat jamaah, ilmu, dan kebersamaan, sehingga perjalanan setengah tahun ini menjadi pijakan untuk langkah yang lebih matang di masa mendatang.
Penulis: Khoirunnias | Editor: Nayla Sya
