Sastra

Bunga Perangkap
Puisi, Sastra

Bunga Perangkap

Sumber: Unsplash - Rebecca Matthews Jauh, tak pasti jaraknya Suara auman terdengar riuh Seperti kawanan terbebas Dari jerat yang menipu Matanya menyapu lantai merah; Melotot tanpa kedip Tersapu angin pilu Tertahan serpih tanah Jantungnya berdegup kencang Semakin panas napas terburu Bersiap jika terulang perang Melawan ulah kawan baru Ia adalah pekerja kebun palsu Pandai menabur kembang Yang wanginya semerbak Semu rekah memukau mata Berwujud jimat pemikat nurani Sungkan dilawan apalagi ditentang Hingga sekujur raga menolak enyah, terpaku pada pijak terakhir: beku (Cilacap, Agustus 2026)
Warisan dari Bukit yang Dijanjikan
Cerpen, Sastra

Warisan dari Bukit yang Dijanjikan

Sumber: Generated AI Angin dari lereng Gunung Lawu masih menempel di jubah Rororesmi ketika rombongan terhenti di sebuah hutan rimba yang belum bernama. Kabut tipis menggantung di antara pepohonan yang menjulang, suara jangkrik bersahutan seolah menyambut kedatangan mereka dengan curiga. Rombongan mereka sudah berbulan-bulan berjalan untuk menemukan tempat istirahat. Sejak malam ketika Trowulan diliputi tangis dan asap atau yang biasa dikenal sirna ilang kertaning bumi. Rororesmi yang merupakan salah satu selir Prabu Brawijaya V tak sempat lagi menoleh terakhir kalinya untuk melihat istana yang megah. Ia hanya berbekal keberanian dengan menggenggam tangan kedua putranya, serta sisa para prajurit yang masih setia meski dunia yang mereka kenal telah runtuh. Onggoloco dan Gading Mas ada...
Puisi Bulan Maulid
Puisi, Sastra

Puisi Bulan Maulid

Sumber: pinterest.com/Manju Nur Ya... Nabi Di tengah zaman yang semakin cepat, di tengah zaman yang semakin ramai, di tengah zaman yang semakin menjauh dari iman. Aku... umatmu, wahai Nabi, terjerat kebingungan, tercekik hawa nafsu. Ke mana arahnya, wahai Nabi? Kepada siapa umatmu harus bercerita? Sedang tak pernah sedetik pun kutatap wajahmu? Kutanya pada temanku, “terserah,” ucapnya. Kutanya pada keluargaku, “kau sudah dewasa,” katanya. Kutanya pada guruku, “kau sendiri adalah guru bagi dirimu sendiri,” dawuhnya. Lalu bagaimana? Aku sendiri sudah hilang arah. Kubaca ulang kisahmu dalam kalam-kalam-Nya. Kutemukan cahaya dalam hatiku. Ketika kusebut berulang kali, berulang-ulang kali namamu dalam setiap napas, ...
Setulus Semesta Mencintai
Puisi, Sastra

Setulus Semesta Mencintai

Sumber: pinterest.com/beyzabetull Setulus semesta mencintai hujan Tetap setia ketika langit tak berawan Engkau tetap menjadi tujuan Di kala badai tak berkesudahan Setulus semesta mencintai pelangi Yang menjadikan indahnya abadi Ia tak membiarkan kau sendiri  Dan aku ada disini Setulus semesta mencintai gerhana Cahaya merambat mengalirkan rasa Menjadikannya tetap ada Tak pernah sirna
Benda Juga Punya Perasaan
Cerpen

Benda Juga Punya Perasaan

Sumber: Pinterest Kala itu, ponselku lolos dari tas bagian saku. Yang jadi masalah bukan cuma jatuhnya, tapi juga hilangnya. Aku baru sadar bahwa si biru–nama ponselku– raib setelah sudah sampai kamar asrama dari perjalanan Taman Siswa–Kotagede. Mengurangi rasa panik, kutunaikan sholat ashar terlebih dahulu. Memang, keadaan belum sembahyang adalah salah satu hal yang membuatku tergesa-gesa pulang dari acara di Taman siswa kala itu. Sungkan meminta tolong, awalnya aku nekat berangkat sendiri menyusuri jalan yang kulewati tadi. Tak jadi, untunglah ada Devi yang bersedia menemani. Membawa teman membuatku bisa tetap fokus berkendara tanpa kehilangan momen menengok kanan-kiri. Pertama, kami mendatangi Pendopo Taman Siswa yang ternyata sedang dipakai untuk entahlah apa.  “Itu merek...
Satu Malam Bersama Ibu
Puisi, Sastra

Satu Malam Bersama Ibu

Sumber: Dokumentasi Panitia Harlah 2026 Kita rayakan malam ini bersama Ibu Karena untuk apa merayakan kelahiran bangunan, tanpa merayakan panjangnya perjuangan? Lalu siapa lagi kalau bukan sosok pejuang di baliknya, yang akan kita rayakan, tapi nyatanya sering kita lupakan. ... Akankah kita paham? Telah banyak derai air mata yang Ibu lalui Malam-malam panjang yang telah Ibu jalani Bahkan gedoran bukti cinta yang sering kali salah kita pahami ... Akankah kita merasakan? Betapa beratnya Ibu berjuang untuk mempertahankan pondok tercinta ini? Tapi tidak, tidak ada kata menyerah Ibu bukanlah sosok yang mudah putus asa Niat yang kuat, lillah karena-Nya, pastilah menjadi penguatnya ... Dan kita… kita… Kita bersama-sama melanjutkan perjua...
Di Bawah Derai Hujan
Cerpen, Sastra

Di Bawah Derai Hujan

AI Generate Di antara temaram cahaya lampu jalan dan senyapnya sudut kota, di bawah hujan deras yang tak kunjung reda, seorang gadis berjas hujan dengan ransel besar di punggungnya tampak berjalan seorang diri, seolah menikmati setiap tetes hujan yang jatuh malam ini. --- Dingin, satu kata mewakili seluruh rasaku hari ini.  Meski paham bahwa berharap pada makhluk hanya berujung kecewa, tetap saja aku mengulanginya, lagi dan lagi. Malam ini di bawah air hujan yang mengguyur deras, ku gali memori tentang semua kelalaianku dalam beberapa hari yang telah kujalani, kusadarkan kembali hati ini akan nikmat yang telah Tuhanku berikan juga kesalahan mana lagi yang tak boleh ku ulangi. Percayalah pada perkataan, “Jangan melihat orang yang berada di atasmu, lihatlah orang yang ber...
Ara, Luka, dan Alzhaimer
Cerpen, Sastra

Ara, Luka, dan Alzhaimer

Sumber: Pinterest.com/Mariati Kenalkan, aku Petaloka. Seorang santri biasa yang ingin membagikan sebuah kisah luar biasa. Sebuah kisah tentang seseorang dengan segudang permasalahan hidup, namun masih bisa tampil layaknya manusia paling bahagia sedunia.  Kisah ini kupersembahkan untuknya, untuk ia yang begitu baik padaku, dan untuk ia yang tak pernah Lelah membersamaiku dalam kebaikan. Namanya Ara, kami adalah teman akrab satu kamar di pesantren. Di seluruh lingkungan pesantren, ia adalah sinonim dari kata cemerlang. Piala-piala olimpiade bahasa Arab, deretan sertifikat tahfiz Al-Qur'an, dan nilai ujian yang selalu sempurna. Ia juga yang paling sibuk. Pagi kuliah, siang mengajar privat online untuk membiayai kuliahnya, sore mengaji, dan malam menulis jurnal. Begitulah Ara, ia...
Cerita Joko Bodo yang Nggak Bodo-Bodo Amat
Cerpen, Sastra

Cerita Joko Bodo yang Nggak Bodo-Bodo Amat

Sumber: Generated AI Pada zaman dahulu, ada seorang laki-laki bernama Joko Bodo. Ia sedang merasa bosan dengan hidupnya yang gitu-gitu aja. Duduklah ia di atas batu besar yang berada di tengah sungai untuk mencari kedamaian. Sambil memandang ke bawah, ia bergumam: “Kuat sekali, ya, batu besar ini. Bahkan, jika ada sepuluh sumo yang berada di atasnya, pasti tetap kuat dan tidak akan hancur. Pengin, deh, jadi batu.” Clinggg! Seketika, berubahlah Joko Bodo menjadi batu besar yang kokoh. “Wah, aku sudah berubah jadi batu! Lho, ternyata air lebih kuat dibanding batu. Buktinya, air dapat mengikisku perlahan-lahan. Sekarang, aku pengin jadi air aja, deh,” ucapnya. Saat Joko Bodo berubah menjadi air, ia berubah pikiran. “Awan sangat unik, ya? Ternyata awan berasal dari air yang m...
S, L, U, C: Jalan Menuju Soro-soro
Cerpen, Sastra

S, L, U, C: Jalan Menuju Soro-soro

Sumber: pinterest.com / Freepik “Aku nggak bisa nulis cerpen.” “Nggak apa-apa, tulis aja pengalamanmu.” “Udah dicoba, tapi susah nyusun kalimatnya.” “Yaudah, deh. Terserah mau nulis apa, resensi juga boleh. Yang penting kamu ada sumbangsih tulisan di bulan ini, ya, Kirana.” Percakapan tadi adalah awal kisah Kirana, sudah satu bulan ini ia tergabung dalam komunitas menulis di asramanya. Mahasiswa semester 3 Prodi Akuntansi di UWAW tersebut malah banyak berselancar di dunia kesusastraan, memandang lautan tulisan di buku-buku usang, dan menulis puisi. Aneh, ya? Tapi tak apa. Menulis itu kebutuhan. Tidak peduli apa jurusanmu di kampus, berbakat menulis atau tidak, menulis adalah perihal bisa karena terbiasa. Itu kata salah satu jurnalis senior Kirana. Namun, tetap saja, setia...